Pusat informasi berita, kegiatan, dan aktivitas pembangunan desa dalam satu ruang informasi publik.
๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฎ๐ฌ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฟ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฑ ๐ต๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ฎ ๐ฆ๐ฒ๐ฝ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ: ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ฟ๐น๐ถ๐ต๐ฎ๐, ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ธ๐๐ฟ, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป๐ป๐๐ฎ?
Ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar bertanya apakah pemerintahan baru NTB sudah berhasil atau belum.
Pertanyaannya adalah: apa yang sebenarnya dapat dibuktikan oleh data setelah sekitar satu tahun tujuh bulan pemerintahan Lalu Muhamad IqbalโIndah Dhamayanti Putri?
Pertanyaan ini penting karena sebuah pemerintahan tidak cukup dinilai dari banyaknya program yang diumumkan. Ia perlu dilihat dari beberapa sisi sekaligus: hasil pembangunan, kualitas pelayanan publik, pengelolaan anggaran, tata kelola pemerintahan, serta bagaimana masyarakat sendiri menilai pelayanan yang mereka terima.
Dari titik inilah rekam jejak IqbalโDinda perlu dibaca.
๐ฆ๐๐ง๐๐๐จ๐ก ๐๐๐๐๐, ๐๐จ๐๐๐ก ๐๐จ๐ ๐ง๐๐๐จ๐ก
Lalu Muhamad Iqbal dan Indah Dhamayanti Putri resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2025โ2030 pada 20 Februari 2025.
Artinya, per September 2026 pemerintahan ini baru berjalan sekitar satu tahun tujuh bulan.
Ini penting untuk diletakkan sejak awal agar pembacaan data tidak keliru.
Sebagian indikator pembangunan memiliki jeda waktu statistik dan tidak seluruh perubahan dapat langsung dikaitkan sebagai akibat kebijakan pemerintahan yang sedang berjalan. Karena itu, angka-angka berikut lebih tepat dibaca sebagai indikator kondisi NTB selama masa pemerintahan IqbalโDinda, bukan sebagai bukti tunggal keberhasilan atau kegagalan mereka.
๐๐๐ ๐๐ฆ๐๐๐ก๐๐ก ๐ง๐จ๐ฅ๐จ๐ก, ๐ง๐๐ฃ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ก๐ฌ๐ ๐ ๐๐ฆ๐๐ ๐๐๐ฆ๐๐ฅ
Data terbaru BPS memberikan satu fakta yang cukup jelas.
Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin NTB berada pada 11,17 persen, atau sekitar 628,50 ribu orang.
Angka tersebut turun 0,61 poin persentase dibandingkan Maret 2025 dan turun 0,21 poin dibandingkan September 2025.
Namun ada detail yang tidak boleh dilewatkan.
Kemiskinan di wilayah perdesaan pada Maret 2026 tercatat 11,08 persen, bahkan mengalami kenaikan dibandingkan September 2025 yang sebesar 11,02 persen. Sementara kemiskinan perkotaan turun menjadi 11,25 persen dari 11,70 persen.
Artinya, membaca keberhasilan pengentasan kemiskinan hanya dari satu angka provinsi akan terlalu sederhana.
Ada penurunan secara agregat, tetapi distribusi persoalannya masih membutuhkan perhatian.
Di sinilah Program Desa Berdaya menjadi salah satu kebijakan yang menarik untuk diamati.
Pemerintah Provinsi NTB menyatakan program tersebut dirancang untuk menggabungkan pengentasan kemiskinan ekstrem, penguatan ekonomi keluarga, ketahanan pangan dan pengembangan potensi desa. Untuk pendekatan transformatif, pemerintah menetapkan sasaran 106 desa miskin ekstrem dengan sekitar 16.876 rumah tangga atau 44.013 jiwa.
Pada 2026, pendekatan tematik juga diarahkan kepada desa-desa yang memiliki potensi pertanian, pariwisata, lingkungan dan sektor produktif lainnya.
Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih penting:
Berapa banyak keluarga yang benar-benar keluar dari kemiskinan secara permanen setelah intervensi tersebut?
Jawaban atas pertanyaan itu belum dapat diberikan hanya berdasarkan jumlah program atau jumlah penerima bantuan.
๐๐ฃ๐ ๐ก๐๐๐: ๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐จ๐๐ก, ๐ง๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐ฃ๐๐ก๐๐๐๐๐๐๐ก ๐ ๐๐ฆ๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐๐๐ฅ๐๐๐๐ก ๐ฅ๐จ๐ ๐๐
IPM NTB tahun 2025 mencapai 73,97, meningkat 0,87 poin dibandingkan 2024 yang berada pada 73,10.
BPS mencatat harapan hidup meningkat menjadi 72,60 tahun, sementara rata-rata lama sekolah meningkat dari 7,87 menjadi 8,21 tahun.
Angka ini memberikan gambaran adanya peningkatan pada beberapa dimensi pembangunan manusia.
Tetapi rata-rata lama sekolah 8,21 tahun juga menyampaikan pesan lain: perjalanan pendidikan masyarakat NTB masih panjang.
Dengan kata lain, kenaikan IPM merupakan perkembangan yang perlu dicatat, tetapi belum otomatis berarti persoalan kualitas manusia telah selesai.
๐๐๐ฅ๐ ๐ฃ๐ฅ๐ข๐๐ฅ๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐ฅ๐๐: ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ฅ๐๐๐ฌ๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ก ๐ฆ๐ง๐ฅ๐๐ง๐๐๐
Salah satu ciri yang terlihat dari pemerintahan IqbalโDinda adalah upaya menjadikan desa sebagai titik masuk pembangunan.
Pemerintah sendiri menyebut tiga pilar utama pembangunan NTB adalah pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan pariwisata.
Desa Berdaya kemudian ditempatkan sebagai instrumen untuk menghubungkan ketiga agenda tersebut dengan kondisi nyata masyarakat.
Di Desa Mekarsari, misalnya, pemerintah melaporkan 115 kepala keluarga miskin ekstrem memperoleh bantuan modal usaha Rp7 juta per keluarga dan 19 keluarga memperoleh bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni.
Data tersebut menunjukkan bahwa program telah memasuki tahap implementasi.
Namun ukuran akhirnya bukan sekadar berapa keluarga menerima bantuan.
Ukuran yang lebih substantif adalah:
apakah keluarga tersebut kemudian memiliki pendapatan yang lebih stabil, mampu memenuhi kebutuhan dasar, dan tidak kembali ke garis kemiskinan?
Itulah pekerjaan rumah berikutnya.
๐๐ข๐ก๐๐๐ง๐๐ฉ๐๐ง๐๐ฆ ๐ ๐๐ก๐๐ก๐๐๐๐ง, ๐ง๐๐ฃ๐ ๐ฃ๐๐ฅ๐ง๐๐ก๐ฌ๐๐๐ก ๐ก๐ฌ๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐จ๐๐ง๐๐ฃ๐๐๐๐ฅ ๐๐๐๐๐ก๐ฌ๐
Sektor konektivitas juga menunjukkan perkembangan.
Pemerintah Provinsi NTB melaporkan jumlah penumpang Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid sepanjang 2025 mencapai 2.497.163 penumpang, dibandingkan 2.377.410 penumpang pada 2024.
Kenaikan mobilitas tentu relevan bagi pariwisata, perdagangan dan aktivitas ekonomi.
Namun peningkatan mobilitas belum dengan sendirinya berarti peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pertanyaan berikutnya adalah:
berapa besar peningkatan konektivitas tersebut berubah menjadi investasi, lapangan kerja, pendapatan UMKM, kunjungan wisatawan yang lebih lama, serta perputaran ekonomi yang dirasakan masyarakat di luar pusat-pusat pertumbuhan?
Di sinilah data sektoral perlu terus dibaca bersama.
๐๐ก๐๐๐๐ฅ๐๐ก: ๐๐๐ฅ๐ ๐๐ก๐๐๐ ๐ฅ๐๐๐๐๐ฆ๐๐ฆ๐ ๐๐ ๐ฃ๐๐ฅ๐ฆ๐ข๐๐๐๐ก ๐ง๐๐ง๐ ๐๐๐๐ข๐๐
LKPJ Pemerintah Provinsi NTB Tahun 2025 mencatat realisasi pendapatan daerah mencapai 99,79 persen dari target, sedangkan realisasi belanja mencapai 93,14 persen.
Tetapi pada September 2026 muncul persoalan baru dalam proses perubahan APBD.
Badan Anggaran DPRD NTB berkonsultasi dengan Kemendagri mengenai evaluasi Perubahan APBD 2026 dan secara terbuka membahas terbatasnya waktu efektif pelaksanaan program menjelang akhir tahun.
Dalam konsultasi itu juga disebut adanya proses reviu Inspektorat terhadap sejumlah belanja pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan atensi KPK, termasuk sebagian belanja yang berkaitan dengan pokok-pokok pikiran DPRD.
Ini bukan berarti telah terjadi pelanggaran.
Justru proses reviu dan evaluasi merupakan bagian dari mekanisme pengawasan.
Tetapi secara tata kelola, persoalannya penting: anggaran yang sudah direncanakan harus memiliki cukup waktu untuk dilaksanakan, diawasi, dan menghasilkan manfaat sebelum tahun anggaran berakhir.
Kemendagri juga menekankan pentingnya memastikan kegiatan fisik dapat diselesaikan dalam tahun anggaran berjalan.
Dengan demikian, tantangan pemerintahan IqbalโDinda tidak hanya soal mendapatkan anggaran, tetapi juga mengubah anggaran menjadi program yang tepat waktu, tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan.
๐๐ก๐ง๐๐๐ฅ๐๐ง๐๐ฆ: ๐๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ง๐ ๐๐๐ฆ๐ง๐๐ฅ๐ก๐๐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐ง๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ก
Ada satu indikator yang justru membuat pembacaan pemerintahan ini menjadi lebih kompleks.
Hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK 2025 untuk NTB menunjukkan indeks 64,93 dan masuk kategori โRentanโ. Komponen internal tercatat 72,82, eksternal 88,46 dan eksper 62,63.
Pada September 2026, KPK kembali menyampaikan bahwa nilai SPI NTB 64,93 masih berada di bawah ambang batas nasional 72,99 dan menyebut tata kelola pemerintahan NTB masih rentan terhadap praktik korupsi.
Angka ini bukan survei kepuasan terhadap Gubernur dan Wakil Gubernur.
SPI mengukur dimensi integritas dan risiko korupsi, sehingga harus dibaca sebagai indikator tata kelola, bukan sebagai ukuran popularitas pemerintahan.
Namun justru karena berasal dari instrumen KPK, data ini penting ditempatkan dalam pembacaan rekam jejak pemerintahan.
Sebab pembangunan tidak hanya membutuhkan program yang banyak, tetapi juga sistem pemerintahan yang mampu menjaga integritas dalam menjalankan program tersebut.
๐๐๐๐จ, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐ก๐ ๐ฃ๐จ๐๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐ ๐๐ฅ๐๐ก๐ง๐๐๐๐ก ๐๐ก๐?
Di sinilah persoalan menjadi menarik.
Pemerintah Provinsi NTB memiliki SIMASKOT, sistem Survei Kepuasan Masyarakat Online Terintegrasi.
Dashboard SIMASKOT yang saat ini dapat diakses menampilkan IKM Provinsi 87,27, dengan 15.381 responden dan 459 standar pelayanan.
Tetapi angka tersebut harus dibaca secara benar.
87,27 bukan berarti 87,27 persen masyarakat NTB menyatakan puas terhadap pemerintahan IqbalโDinda.
SIMASKOT mengukur kepuasan masyarakat terhadap unit dan layanan publik, bukan approval rating politik terhadap gubernur dan wakil gubernur.
Bahkan dalam Satu Data NTB, dataset tahunan Hasil Survei Kepuasan Masyarakat melalui SIMASKOT berdasarkan Perangkat Daerah dan Jenis Layanan Publik Tahun 2025 pada jadwal rilis masih tercatat โBelum Rilisโ.
Karena itu, belum tepat menjadikan angka 87,27 sebagai jawaban atas pertanyaan tentang tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan IqbalโDinda.
๐๐๐ก๐ ๐ฃ๐๐ก๐๐จ๐๐จ๐ฅ ๐๐ก๐๐๐ฃ๐๐ก๐๐๐ก? ๐๐ ๐ฆ๐๐ก๐ ๐๐จ๐ฆ๐ง๐ฅ๐จ ๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ฆ๐ข๐ก๐๐๐ก ๐๐๐ง๐
Penelusuran terhadap survei terbuka menunjukkan bahwa terdapat beberapa survei sebelum Pilkada 2024.
Poltracking, misalnya, melakukan survei pada 31 Meiโ7 Juni 2024 terhadap 800 responden di seluruh kabupaten/kota NTB. Dalam survei itu, approval rating terhadap kinerja pemerintah provinsi secara bersama-sama tercatat 64,3 persen.
Tetapi angka tersebut menggambarkan pemerintahan sebelum IqbalโDinda, sehingga tidak dapat digunakan sebagai ukuran kinerja pemerintahan sekarang.
Nusra Institute kemudian melakukan survei pada 9โ13 September 2024 terhadap 1.000 responden. Survei tersebut melaporkan elektabilitas pasangan IqbalโDinda sebesar 31 persen dan menyebut tingkat kepuasan terhadap kinerja petahana berada di bawah 50 persen. Metodenya multistage random sampling dengan margin of error 3,16 persen.
Namun survei tersebut juga mempunyai konteks yang harus disampaikan kepada pembaca: survei dilakukan untuk memotret dinamika Pilkada 2024 dan menurut penjelasan Direktur Nusra Institute, pembiayaannya berasal dari seorang pengusaha yang tidak disebutkan namanya.
LSI juga melakukan survei pada Oktober 2024 dengan 1.540 responden dan metodologi stratified random sampling. Hasilnya kemudian diberitakan sebagai survei yang tidak terkait dengan pasangan IqbalโDinda.
Tetapi sekali lagi, semuanya adalah survei pra-pemilihan.
Bukan survei evaluasi setelah pemerintahan berjalan.
Dengan demikian, sampai penelusuran ini dilakukan pada September 2026, belum ditemukan survei independen terbuka yang secara khusus dan metodologis mengukur approval rating masyarakat NTB terhadap pemerintahan IqbalโDinda setelah mereka dilantik pada 20 Februari 2025.
Ini adalah fakta penting.
Karena publik memiliki hak untuk mengetahui bukan hanya berapa banyak program yang dilaksanakan pemerintah, tetapi juga bagaimana masyarakat menilai pemerintahan tersebut.
๐๐๐ง๐๐๐ ๐ฆ๐จ๐ฅ๐ฉ๐๐ ๐ ๐จ๐๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐ฅ๐๐๐ฌ๐๐๐๐ก, ๐ฉ๐๐ฅ๐๐๐๐๐๐ฆ๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐ก๐ง๐๐ก๐
Pengalaman Pilkada NTB 2024 juga menunjukkan mengapa publik harus hati-hati membaca angka survei.
Pada November 2024, Litbang Kompas secara resmi membantah melakukan survei prapilkada di NTB. Survei yang beredar menggunakan nama Litbang Kompas dinyatakan hoaks.
Karena itu, angka survei tidak boleh diterima hanya karena mencantumkan nama lembaga terkenal.
Metode, waktu penelitian, jumlah responden, teknik sampling, margin of error dan siapa yang membiayai survei perlu diketahui.
Dalam konteks pemerintahan, hal ini bahkan lebih penting karena angka kepuasan dapat membentuk persepsi publik terhadap kinerja pemerintah.
๐๐๐๐, ๐๐ฃ๐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐ฆ๐จ๐๐๐ ๐ง๐๐ฅ๐๐๐๐๐ง?
Jika seluruh data tersebut disusun tanpa memberikan label โberhasilโ atau โgagalโ, gambarannya menjadi lebih menarik.
Pertama, kemiskinan NTB mengalami penurunan hingga 11,17 persen pada Maret 2026.
Kedua, IPM meningkat menjadi 73,97 pada 2025, termasuk peningkatan rata-rata lama sekolah.
Ketiga, pemerintah mulai mendorong Desa Berdaya sebagai pendekatan pembangunan yang menghubungkan kemiskinan, ekonomi desa, pangan dan potensi lokal.
Keempat, konektivitas transportasi menunjukkan peningkatan jumlah penumpang BIZAM pada 2025.
Kelima, realisasi pendapatan APBD 2025 mencapai 99,79 persen dan realisasi belanja 93,14 persen.
Namun di sisi lain:
Pertama, SPI KPK 2025 menempatkan NTB pada indeks 64,93 dengan kategori Rentan.
Kedua, proses Perubahan APBD 2026 menghadapi persoalan waktu efektif pelaksanaan program dan proses reviu sejumlah belanja.
Ketiga, data kepuasan pelayanan publik tersedia melalui SIMASKOT, tetapi angka tersebut bukan approval rating terhadap gubernur.
Keempat, dataset tahunan SIMASKOT 2025 berdasarkan perangkat daerah dan jenis layanan pada Satu Data NTB masih tercatat belum rilis.
Kelima, belum ditemukan survei independen terbuka pascapelantikan yang secara khusus menjawab pertanyaan: seberapa puas masyarakat NTB terhadap pemerintahan IqbalโDinda?
๐ฅ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ง๐๐๐๐ ๐๐จ๐๐จ๐ฃ ๐๐๐จ๐๐จ๐ฅ ๐๐๐ฅ๐ ๐๐๐ก๐ฌ๐๐๐ก๐ฌ๐ ๐ฃ๐ฅ๐ข๐๐ฅ๐๐
Pada akhirnya, pemerintahan IqbalโDinda masih berada pada fase awal pelaksanaan mandat lima tahun.
Karena itu, rekam jejaknya lebih tepat dibaca sebagai proses yang sedang berlangsung, bukan sebagai laporan akhir.
Data menunjukkan sejumlah indikator bergerak positif. Pada saat yang sama, masih terdapat persoalan tata kelola, integritas, pelaksanaan anggaran dan kebutuhan akan pengukuran kepuasan publik yang lebih terbuka.
Justru di sinilah ukuran pemerintahan yang sehat menjadi penting.
Bukan berapa banyak program yang dapat diumumkan.
Bukan pula berapa banyak kegiatan yang dapat difoto dan diberitakan.
Tetapi apakah program tersebut menghasilkan perubahan yang dapat diukur, apakah anggaran menghasilkan manfaat, apakah pelayanan semakin mudah diakses, apakah masyarakat merasakan perubahan, dan apakah seluruh proses pemerintahan berjalan dengan integritas.
Dan untuk menjawab pertanyaan terakhir tentang โbagaimana perasaan publik terhadap pemerintahan IqbalโDinda setelah satu tahun lebih berjalan?โ, NTB masih membutuhkan satu hal yang sangat sederhana tetapi penting:
data survei yang independen, transparan metodologinya, dan benar-benar mengukur pemerintahan yang sedang berjalan.
Sebab dalam demokrasi, pemerintah boleh menyampaikan capaian, media boleh menguji data, tetapi penilaian publik seharusnya juga memiliki ruang untuk diukur secara terbuka.
Itulah sebabnya rekam jejak sebuah pemerintahan tidak seharusnya dibangun hanya dari narasi pemerintah, dan tidak pula dari kritik semata.
Ia harus diuji oleh data.
๐๐๐ง๐๐ง๐๐ก ๐ฅ๐๐๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ฆ๐ ๐ฆ๐ ๐๐ฅ๐ง
Artikel ini disusun sebagai bahan literasi dan edukasi publik berdasarkan sumber resmi pemerintah, BPS, DPRD NTB, KPK serta pemberitaan mengenai survei yang dapat diverifikasi. Angka survei pra-Pilkada 2024 tidak digunakan sebagai ukuran kepuasan terhadap pemerintahan IqbalโDinda, melainkan hanya sebagai data pembanding historis.
Angka SIMASKOT juga tidak diperlakukan sebagai approval rating politik karena instrumennya mengukur kepuasan terhadap layanan publik.
Desa Smart tidak memberikan penilaian politik terhadap pemerintahan atau pejabat publik tertentu. Pembaca dipersilakan membaca data, membandingkan sumber, dan membentuk penilaiannya sendiri.
๐ฆ๐จ๐ ๐๐๐ฅ ๐ฅ๐จ๐๐จ๐๐๐ก ๐จ๐ง๐๐ ๐
โข BPS Provinsi NTB โ Profil Kemiskinan NTB Maret 2026.
โข BPS Provinsi NTB โ IPM Provinsi NTB 2025.
โข Pemerintah Provinsi NTB โ SIMASKOT.
โข Satu Data NTB โ Jadwal Rilis Dataset 2025.
โข KPK โ Survei Penilaian Integritas 2025.
โข ANTARA โ KPK menilai tata kelola Pemda NTB rentan korupsi, 3 September 2026.
โข DPRD Provinsi NTB โ LKPJ Gubernur NTB Tahun 2025.
โข DPRD Provinsi NTB โ Evaluasi Perubahan APBD 2026, 23 September 2026.
โข ANTARA โ Survei Poltracking NTB, Juni 2024.
โข ANTARA โ Survei Nusra Institute NTB, September 2024.
โข ANTARA โ Survei LSI NTB, Oktober 2024.
โข detikBali โ Klarifikasi Litbang Kompas terkait survei hoaks Pilgub NTB.
Status verifikasi: layak dipublikasikan sebagai artikel literasi/analisis publik, dengan catatan bahwa angka-angka pembangunan tidak boleh ditafsirkan sebagai hubungan sebab-akibat tunggal dengan pemerintahan IqbalโDinda, dan angka survei pra-Pilkada tidak boleh dipresentasikan sebagai tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini.
๐๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ณ๐ฐ๐ฌ๐ณ๐ข๐ด๐ช, 12 ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐จ๐ณ๐ข๐ฎ ๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ, ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ง๐ณ๐ข๐ด๐ต๐ณ๐ถ๐ฌ๐ต๐ถ๐ณ, ๐๐๐๐, ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐บ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ญ๐ข๐ช ๐ฌ๐ช๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข.
๐๐ข๐ต๐ข๐ต๐ข๐ฏ: ๐ข๐ณ๐ต๐ช๐ฌ๐ฆ๐ญ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ด๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ด๐ช๐ด ๐ฅ๐ฐ๐ฌ๐ถ๐ฎ๐ฆ๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ, ๐ฅ๐ข๐ต๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ, ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ ๐ด๐ถ๐ณ๐ท๐ฆ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช๐ท๐ฆ๐ณ๐ช๐ง๐ช๐ฌ๐ข๐ด๐ช ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข 26 ๐๐ฆ๐ฑ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ 2026.
Oleh : Redaksi DESA SMART
Ketika Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P. dan Drs. H. Mohamad Ansori dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa pada 20 Februari 2025, keduanya menerima mandat politik dari hasil Pilkada Sumbawa 2024.
Berdasarkan Keputusan KPU Kabupaten Sumbawa, pasangan JarotโAnsori memperoleh 102.923 suara atau sekitar 39,33 persen dari total suara sah. Angka tersebut merupakan perolehan tertinggi di antara empat pasangan calon.
Namun setelah pelantikan, mandat politik berubah menjadi mandat pemerintahan.
Ukuran keberhasilan tidak lagi semata-mata tentang kemenangan dalam pemilu, melainkan tentang bagaimana pemerintahan bekerja, bagaimana anggaran digunakan, bagaimana program dilaksanakan, dan sejauh mana masyarakat merasakan perubahan.
Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan setelah sekitar satu tahun tujuh bulan pemerintahan berjalan adalah:
Apa yang telah dilakukan?
Apa yang sudah berubah?
Dan apa yang masih harus dituntaskan?
Tulisan ini mencoba membaca pertanyaan tersebut berdasarkan data dan dokumen yang tersedia.
๐๐๐ฅ๐ ๐ฃ๐๐๐๐ก๐ง๐๐๐๐ก ๐ ๐๐ก๐จ๐๐จ ๐๐ข๐ก๐ฆ๐ข๐๐๐๐๐ฆ๐ ๐ฃ๐๐ ๐๐ฅ๐๐ก๐ง๐๐๐๐ก
JarotโAnsori resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan pada 20 Februari 2025 bersama kepala daerah hasil Pilkada 2024 lainnya.
Sesaat setelah pelantikan, Jarot menyampaikan bahwa pemerintahannya akan melakukan koordinasi dan konsolidasi serta mengambil langkah cepat untuk program jangka pendek.
Tetapi pemerintahan baru tidak memulai dari halaman kosong.
APBD 2025 pada dasarnya telah disusun sebelum pasangan JarotโAnsori dilantik. Karena itu, perubahan arah pembangunan tidak dapat dilakukan sekaligus dalam beberapa bulan pertama.
Hal tersebut kemudian menjadi salah satu alasan mengapa implementasi 12 program unggulan baru terlihat lebih nyata melalui Perubahan APBD 2025 dan kemudian diperluas pada APBD 2026.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa pada November 2025 menjelaskan bahwa visi-misi JarotโAnsori mulai diimplementasikan secara bertahap melalui APBD Perubahan 2025 dan diproyeksikan berjalan lebih penuh pada 2026.
Dengan demikian, membaca 100 hari pertama pemerintahan sebagai ukuran pelaksanaan seluruh janji politik juga perlu dilakukan secara hati-hati.
๐ฉ๐๐ฆ๐ ๐ฃ๐ข๐๐๐ง๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐จ๐ ๐๐ก ๐ฃ๐๐ ๐๐๐ก๐๐จ๐ก๐๐ก
Pada 6 Maret 2025, Bupati Jarot menyampaikan visi dan misi pemerintahan dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Sumbawa.
Visinya adalah:
โTerwujudnya Kabupaten Sumbawa yang Unggul, Maju, dan Sejahtera.โ
Visi tersebut diterjemahkan ke dalam lima misi pembangunan yang mencakup sumber daya manusia dan sosial budaya, pemerintahan dan birokrasi, lingkungan dan infrastruktur, perekonomian, serta kesejahteraan masyarakat.
Visi dan misi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam RPJMD Kabupaten Sumbawa 2025โ2029.
Dokumen tersebut menjadi instrumen utama perencanaan pembangunan lima tahunan. Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa juga mencantumkan Perda Nomor 3 Tahun 2025 sebagai Perda tentang RPJMD Tahun 2025โ2029.
Artinya, pemerintahan JarotโAnsori tidak hanya memiliki janji politik, tetapi juga memiliki dokumen perencanaan yang memuat program, sasaran dan indikator pembangunan.
Di sinilah proses evaluasi publik sebenarnya dapat dimulai.
๐๐จ๐ ๐๐๐๐๐ฆ ๐ฃ๐ฅ๐ข๐๐ฅ๐๐ ๐จ๐ก๐๐๐จ๐๐๐ก
Pemerintah Kabupaten Sumbawa secara resmi mencantumkan 12 program unggulan pemerintahan JarotโAnsori, yaitu:
1. Penampungan air hujan, cek dam dan sumur bor sebagai sumber irigasi pertanian.
2. Peningkatan pendapatan daerah hingga 50 persen.
3. Peningkatan jaringan jalan mantap hingga 80 persen.
4. Penciptaan tenaga kerja unggul dan mandiri.
5. Industrialisasi produk unggulan daerah dan peningkatan investasi.
6. Satgas pengamanan harga benih, pupuk, gabah dan jagung.
7. Perlindungan dan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja rentan.
8. Insentif bagi imam masjid, guru ngaji dan pemuka agama hingga tingkat dusun.
9. Bantuan modal bagi pelaku UMKM dan pendampingan entrepreneur milenial.
10. Penataan lingkungan dan tata kota serta peningkatan sarana olahraga dan rekreasi.
11. Peningkatan tambahan penghasilan ASN.
12. Siswa sehat bergizi dan Kartu Sumbawa Pintar.
Dua belas program ini menarik karena menyediakan sejumlah indikator yang relatif konkret untuk dipantau masyarakat.
๐ฃ๐๐ก๐๐ง๐๐๐ก ๐๐๐ฅ๐ข๐๐ฅ๐๐ฆ๐: ๐ด๐ต ๐ฃ๐๐๐๐๐๐ง ๐๐๐ ๐จ๐ง๐๐ฆ๐
Salah satu langkah awal yang cukup terlihat adalah penataan birokrasi.
Pada 1 Agustus 2025, Bupati Jarot melantik 89 pejabat struktural.
Komposisinya terdiri atas 14 pejabat pimpinan tinggi pratama, 54 pejabat administrator dan 21 pejabat pengawas. Pelantikan tersebut ditetapkan melalui SK Bupati Sumbawa Nomor 833 Tahun 2025.
Bupati menyatakan mutasi dilakukan untuk kepentingan organisasi dan pelayanan publik serta membantah adanya tekanan politik atau intervensi tim sukses.
Sebelumnya memang muncul pemberitaan mengenai isu jual beli jabatan dan keberadaan โtim bayanganโ. Namun isu tersebut merupakan tuduhan atau informasi yang beredar, bukan fakta yang dapat diperlakukan sebagai kesimpulan tanpa pembuktian.
Yang dapat diverifikasi adalah:
Mutasi terjadi.
Jumlah pejabat yang dilantik adalah 89 orang.
Alasan yang disampaikan pemerintah adalah kebutuhan organisasi dan pelayanan publik.
Sedangkan penilaian terhadap kualitas penataan birokrasi membutuhkan indikator yang lebih luas daripada sekadar jumlah pejabat yang dimutasi.
๐ช๐ง๐ฃ: ๐๐๐ฃ๐๐๐๐ก ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐๐๐ฅ๐จ๐ฆ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐๐ก ๐๐ข๐ก๐ง๐๐๐ฆ
Pada Mei 2025, Pemerintah Kabupaten Sumbawa menerima opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI atas LKPD Tahun Anggaran 2024.
BPK RI Perwakilan NTB mencatat LHP atas LKPD Kabupaten Sumbawa Tahun 2024 dengan opini WTP, bernomor 157/LHP/XIX.MTR/05/2025 dan bertanggal 23 Mei 2025.
Opini tersebut merupakan WTP ke-11 Kabupaten Sumbawa.
Tetapi terdapat satu konteks yang sangat penting.
LKPD yang diperiksa adalah Tahun Anggaran 2024.
Sementara JarotโAnsori baru dilantik pada Februari 2025.
Karena itu, WTP tersebut tidak tepat jika seluruhnya dianggap sebagai hasil pemerintahan JarotโAnsori.
Dalam pemberitaan saat menerima WTP, Jarot sendiri mengakui adanya fondasi yang telah dibangun pemerintahan sebelumnya.
Bagi pemerintahan baru, WTP tersebut lebih tepat dibaca sebagai titik awal tata kelola keuangan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan.
๐ฃ๐๐ฅ๐ง๐๐ก๐๐๐ก: ๐๐๐ฅ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐ฃ๐ฅ๐๐ข๐ฅ๐๐ง๐๐ฆ
Program pertama JarotโAnsori menempatkan air sebagai persoalan penting dalam pembangunan pertanian.
Hingga Juni 2026, Bapperida melaporkan pembangunan dan rehabilitasi berbagai infrastruktur pertanian.
Data yang dipublikasikan menunjukkan terdapat pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi pada 52 ruas, Jaringan Irigasi Air Tanah, rehabilitasi jaringan utama, embung, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Total dukungan anggaran yang dilaporkan mencapai sekitar Rp119,55 miliar, berasal dari APBD, APBN dan sumber pendanaan lainnya.
Pada tahap sebelumnya, pemerintah juga mencatat pembangunan 12 unit check dam, 27 unit jaringan irigasi usaha tani, 3.875 meter irigasi perpipaan, 14 sumur bor, 74 sumur dangkal dan 40 mesin pompa.
Namun pembangunan fisik bukanlah ukuran akhir.
Output-nya adalah infrastruktur.
Outcome-nya harus terlihat pada:
bertambahnya luas tanam,
meningkatnya indeks pertanaman,
berkurangnya risiko gagal panen,
dan pada akhirnya meningkatnya pendapatan petani.
Karena itu, dampak program ini masih perlu dibaca melalui data pertanian beberapa tahun ke depan.
๐๐๐๐๐ก: ๐ง๐๐ฅ๐๐๐ง ๐ด๐ฌ ๐ฃ๐๐ฅ๐ฆ๐๐ก ๐ ๐๐ฆ๐๐ ๐๐๐จ๐
Program jalan menjadi salah satu indikator paling mudah dibandingkan antara target dan kondisi aktual.
Pemerintah menargetkan kemantapan jalan kabupaten mencapai 80 persen.
Namun data hingga Juni 2026 menunjukkan tingkat kemantapan jalan baru 54,11 persen.
Komposisinya terdiri atas sekitar 50,49 persen jalan dalam kondisi baik dan 3,62 persen dalam kondisi sedang. Sementara 3,72 persen rusak ringan dan 42,17 persen masih dalam kondisi rusak berat.
Artinya, terdapat selisih sekitar 25,89 poin persentase antara capaian 54,11 persen dan target 80 persen.
Angka ini tidak berarti pembangunan jalan tidak berjalan.
Tetapi menunjukkan bahwa target 80 persen masih membutuhkan pekerjaan besar.
Pada September 2026, kondisi jalan kembali menjadi salah satu perhatian DPRD. Fraksi DemokratโPPP Pembangunan meminta peningkatan belanja modal untuk memperbaiki ruas jalan rusak, terutama menjelang musim penghujan.
Dengan demikian, jalan merupakan salah satu indikator yang sangat layak dipantau publik setiap tahun.
๐ฃ๐๐ก๐๐๐ฃ๐๐ง๐๐ก ๐๐๐๐ฅ๐๐: ๐ ๐๐ฆ๐๐ ๐๐๐ ๐ง๐๐ก๐ง๐๐ก๐๐๐ก ๐๐๐ฆ๐๐๐
Salah satu janji politik JarotโAnsori adalah meningkatkan pendapatan daerah hingga 50 persen.
Dalam perubahan KUA-PPAS 2026, pendapatan daerah meningkat dari sekitar Rp1,89 triliun menjadi Rp1,94 triliun, atau bertambah Rp45,83 miliar.
PAD ditargetkan sekitar Rp251,59 miliar.
Namun struktur fiskal Sumbawa menunjukkan bahwa transfer pemerintah masih mendominasi pendapatan.
Dalam rancangan KUA-PPAS 2027, pendapatan daerah diproyeksikan sekitar Rp1,92 triliun, terdiri antara lain dari PAD Rp269,78 miliar dan pendapatan transfer sekitar Rp1,64 triliun.
Data ini memperlihatkan bahwa agenda meningkatkan PAD tidak sederhana.
Ia menyangkut kemampuan pemerintah memperluas sumber pendapatan daerah sekaligus menjaga agar peningkatan penerimaan tidak menjadi beban yang tidak proporsional bagi masyarakat.
๐๐ก๐ฉ๐๐ฆ๐ง๐๐ฆ๐: ๐๐ก๐๐๐ ๐ญ๐ฌ,๐ฏ๐ณ ๐ฃ๐๐ฅ๐ฆ๐๐ก ๐ฃ๐๐ฅ๐๐จ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐๐ก ๐๐๐ก๐๐ฅ
Di bagian ini terdapat koreksi penting terhadap narasi awal.
Angka 10,37 persen bukan berarti investasi Sumbawa meningkat 10,37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data DPMPTSP yang diberitakan pada Juni 2026 menyebut realisasi investasi hingga Triwulan II mencapai Rp186,69 miliar, atau sekitar 10,37 persen dari target investasi 2026 sebesar Rp1,8 triliun.
Sementara itu, pemerintah melaporkan telah memberikan bantuan kepada 33 pelaku industri lokal dengan nilai sekitar Rp771,35 juta untuk mendukung industrialisasi produk unggulan daerah.
Jadi, indikator investasi perlu dibaca dengan hati-hati.
Yang perlu dipantau bukan hanya nilai investasi yang masuk, tetapi juga:
berapa tenaga kerja lokal yang terserap,
berapa nilai tambah yang tinggal di Sumbawa,
seberapa besar keterlibatan UMKM lokal,
dan bagaimana dampak investasi terhadap pendapatan masyarakat.
๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐ก๐: ๐จ๐๐๐๐ก ๐ฃ๐๐ก๐ง๐๐ก๐ ๐ง๐๐ง๐ ๐๐๐๐ข๐๐ ๐๐ก๐ฉ๐๐ฆ๐ง๐๐ฆ๐
Perkembangan investasi besar juga terlihat dalam rencana pertambangan tembaga dan emas Blok Elang.
Pada 22 September 2026, Pemerintah Kabupaten Sumbawa bersama PT Amman Mineral Nusa Tenggara mengikuti konsultasi publik dalam rangka penyusunan AMDAL rencana kegiatan pertambangan Blok Elang beserta fasilitas pendukungnya.
Bupati Jarot menyampaikan bahwa konsultasi publik harus menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi sekaligus menyampaikan aspirasi dan kekhawatiran.
Dalam konteks pemerintahan daerah, proyek sebesar ini akan menjadi salah satu ujian penting.
Investasi dapat membawa lapangan kerja, aktivitas ekonomi dan penerimaan daerah.
Pada saat yang sama, proyek berskala besar membutuhkan pengawasan lingkungan, transparansi, partisipasi masyarakat dan kepastian manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Karena itu, indikator keberhasilannya kelak bukan hanya berapa besar investasi masuk, tetapi juga berapa besar nilai tambah yang dirasakan masyarakat Sumbawa.
๐ฃ๐๐ก๐๐๐๐๐๐๐ก: ๐๐๐ฅ๐ ๐๐๐ฅ๐ง๐จ ๐ฆ๐จ๐ ๐๐๐ช๐ ๐ฃ๐๐ก๐ง๐๐ฅ ๐๐๐ก๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ข๐๐๐ ๐ฃ๐๐๐ข๐ฆ๐ข๐
Kartu Sumbawa Pintar menjadi salah satu program unggulan di bidang pendidikan.
Hingga Juni 2026, sebanyak 444 mahasiswa tercatat sebagai penerima manfaat program tersebut.
Namun pada September 2026, muncul gambaran lain mengenai tantangan pemerataan pendidikan.
Wakil Bupati Ansori meninjau SDN Karya Baru di Kecamatan Orong Telu dan menemukan keterbatasan sarana pendidikan.
Sekolah tersebut dilaporkan hanya memiliki dua ruang kelas dengan fasilitas yang sangat terbatas. Pemerintah kemudian menyerahkan bantuan sekitar Rp345 juta untuk pembangunan ruang kelas dan pengadaan bangku.
Dua fakta ini menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan memiliki dua sisi.
Di satu sisi, pemerintah memperluas akses pendidikan tinggi.
Di sisi lain, kebutuhan dasar pendidikan di wilayah terpencil masih membutuhkan intervensi.
Karena itu, kualitas pendidikan tidak cukup diukur dari jumlah beasiswa.
Ia juga berkaitan dengan kondisi sekolah, guru, akses geografis, fasilitas, kualitas pembelajaran dan keberlanjutan pendidikan.
๐ฆ๐จ๐ฅ๐ฉ๐๐ ๐ฃ๐จ๐๐๐๐: ๐๐๐๐๐๐ ๐๐ก๐ ๐ ๐๐ฆ๐ฌ๐๐ฅ๐๐๐๐ง ๐ ๐๐ก๐๐๐๐?
Bagian ini penting karena rekam jejak pemerintahan tidak hanya dapat dilihat dari dokumen pemerintah.
Ada pula ukuran lain:
persepsi masyarakat.
Penelusuran menemukan setidaknya dua kelompok hasil penelitian/survei yang relevan.
Pertama, penelitian akademik mengenai kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten Sumbawa.
Kedua, survei MY Institute yang secara khusus memotret persepsi masyarakat terhadap pemerintahan JarotโAnsori.
๐ฆ๐จ๐ฅ๐ฉ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐: ๐ด๐ฌ๐ฌ ๐ฅ๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ก๐๐๐ก
Penelitian berjudul โSurvei Kepuasan Masyarakat terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Tahun 2025โ diterbitkan dalam Jurnal Tambora.
Penelitian tersebut menggunakan 800 responden dengan metode multistage random sampling di seluruh Kabupaten Sumbawa.
Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif, Indeks Kepuasan Masyarakat dan Importance and Performance Analysis.
Penelitian yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal pada 2025 tersebut menemukan bahwa secara umum masyarakat memberikan penilaian relatif baik pada sektor pendidikan dan kesehatan, tetapi masih terdapat persoalan pada pemerataan infrastruktur, kualitas pelayanan tingkat kecamatan dan kabupaten, serta pengembangan ekonomi lokal dan pariwisata.
Dalam publikasi lanjutan tahun 2026, penelitian Joni Firmansyah dan Rachmat Wasqita kembali mencatat skor rata-rata 6,89 pada skala 10 dan menyebut infrastruktur, bantuan sosial serta komunikasi publik sebagai aspek yang membutuhkan perhatian berdasarkan analisis IPA.
Penelitian ini penting sebagai referensi akademik.
Namun ia perlu dibedakan dari survei politik atau survei elektabilitas.
Fokusnya adalah persepsi terhadap kinerja pemerintahan dan pelayanan publik.
๐ ๐ฌ ๐๐ก๐ฆ๐ง๐๐ง๐จ๐ง๐: ๐ฑ๐ณ,๐ฎ ๐ฃ๐๐ฅ๐ฆ๐๐ก ๐ ๐๐ก๐ฌ๐๐ง๐๐๐๐ก ๐ฃ๐จ๐๐ฆ
Temuan lain datang dari MY Institute, lembaga penelitian dan survei yang melakukan survei persepsi masyarakat terhadap pemerintahan daerah.
Survei dilakukan pada 10โ28 Juni 2026 dengan 400 responden yang tersebar di wilayah Kabupaten Sumbawa.
Metodenya adalah multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar ยฑ5 persen.
Wawancara dilakukan secara tatap muka dan dilengkapi quality control melalui spot check, verifikasi lokasi dan pemeriksaan data.
Hasilnya:
57,2 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Bupati dan Wakil Bupati.
Angka tersebut terdiri atas:
โข 54,8 persen puas;
โข 2,4 persen sangat puas;
โข 42,8 persen tidak puas.
Jika dibandingkan dengan survei MY Institute pada Mei 2025, tingkat kepuasan yang dilaporkan turun dari 59,7 persen menjadi 57,2 persen, sedangkan ketidakpuasan meningkat dari 33,3 persen menjadi 42,8 persen.
Tetapi perubahan tersebut perlu dibaca bersama margin of error.
Dengan margin of error sekitar ยฑ5 persen, selisih kepuasan 2,5 poin tidak cukup untuk dibaca sebagai perubahan besar secara statistik tanpa analisis lebih lanjut.
Yang lebih menarik adalah indikator lain.
๐ ๐๐ฌ๐ข๐ฅ๐๐ง๐๐ฆ ๐ฅ๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ก๐๐๐ก ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐ ๐๐๐ก๐๐จ๐ก๐๐ก โ๐ฆ๐๐ ๐ ๐ฆ๐๐๐โ
Dalam survei MY Institute Juni 2026, 57 persen responden menyatakan pembangunan Kabupaten Sumbawa masih โsama sajaโ.
Sementara:
41,2 persen menilai pembangunan lebih baik.
1,8 persen menilai lebih buruk.
Angka tersebut tidak otomatis berarti masyarakat menilai pemerintahan gagal.
Jawaban โsama sajaโ dapat menunjukkan bahwa sebagian masyarakat belum merasakan perubahan yang cukup besar dalam kehidupan sehari-hari.
Dan di sinilah hasil survei menjadi relevan dengan data pembangunan.
Karena di satu sisi terdapat sejumlah program yang sudah berjalan.
Di sisi lain, masyarakat masih melihat persoalan seperti jalan, pemerataan pelayanan, lapangan kerja, air bersih dan kebutuhan dasar lainnya.
๐ฃ๐ฅ๐ข๐๐ฅ๐๐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐๐๐๐จ๐ ๐๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐จ๐๐ฆ
Survei MY Institute juga memberikan temuan menarik mengenai Program Sumbawa Hijau Lestari.
Sebanyak 73,3 persen responden mengaku belum mengetahui program tersebut.
Hanya 26,7 persen yang menyatakan mengetahuinya.
Di antara mereka yang mengetahui program tersebut, 54,2 persen menilai pelaksanaannya belum berhasil dan 45,8 persen menilai berhasil.
Temuan ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan seluruh 12 program unggulan tidak dikenal masyarakat.
Namun ia memberikan pelajaran penting:
Program pemerintah membutuhkan dua hal sekaligus: pelaksanaan dan komunikasi publik.
Program yang berjalan tetapi tidak diketahui masyarakat akan sulit menghasilkan persepsi manfaat.
๐ฃ๐๐ ๐๐ฅ๐๐ก๐ง๐๐๐๐ก ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฑ: ๐๐๐ ๐๐จ๐๐ ๐ฆ๐จ๐ฅ๐ฉ๐๐ ๐ฃ๐ข๐ฆ๐๐ง๐๐
Agar pembacaan tidak hanya mengambil satu sisi, terdapat pula survei Magna Selekta Institute yang dilakukan pada 2025.
Dalam rilis hasil survei yang dipublikasikan Desember 2025, Magna Selekta melaporkan kepuasan terhadap pemerintah daerah meningkat dari 49,4 persen pada Juni 2025 menjadi 66,8 persen pada November 2025.
Survei tersebut melibatkan 800 responden dan dilakukan dengan wawancara tatap muka menggunakan multistage random sampling.
Survei tersebut juga melaporkan skor rata-rata kinerja 6,89 dari skala 10.
Namun hasil survei Magna Selekta dan MY Institute tidak dapat dibandingkan secara sederhana seolah-olah merupakan satu seri survei yang identik.
Perbedaan lembaga, waktu pengumpulan data, instrumen, pertanyaan, metodologi dan konteks survei dapat memengaruhi hasil.
Karena itu, yang lebih aman adalah menjadikan keduanya sebagai potret persepsi publik pada waktu berbeda, bukan sebagai perlombaan angka.
๐๐ฃ๐๐ ๐ฃ๐๐ฅ๐จ๐๐๐๐๐ก ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ: ๐จ๐๐๐๐ก ๐๐ ๐ฃ๐๐๐ ๐๐ก๐ง๐๐ฆ๐
Pada September 2026, pemerintahan JarotโAnsori memasuki fase penting melalui perubahan APBD 2026.
Dalam perubahan KUA-PPAS, pendapatan daerah naik sekitar Rp45,83 miliar, dari Rp1,89 triliun menjadi sekitar Rp1,94 triliun.
Sementara belanja daerah meningkat jauh lebih besar, sekitar Rp224,51 miliar, dari sekitar Rp1,92 triliun menjadi Rp2,14 triliun.
Pemerintah menyatakan perubahan anggaran diarahkan untuk menyelesaikan kegiatan sebelumnya, memenuhi kebutuhan belanja berjalan, kebutuhan mendesak, program prioritas dan belanja modal.
Delapan prioritas pembangunan yang menjadi dasar perubahan KUA-PPAS mencakup:
โข peningkatan kualitas SDM;
โข penguatan nilai budaya Sumbawa;
โข tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik;
โข infrastruktur dan konektivitas;
โข lingkungan hidup serta mitigasi bencana;
โข ekonomi inovatif, inklusif dan berkelanjutan;
โข riset dan inovasi;
โข percepatan penurunan kemiskinan.
Tetapi seperti selalu terjadi dalam pemerintahan daerah:
bertambahnya anggaran tidak otomatis berarti bertambahnya hasil pembangunan.
Yang perlu dilihat adalah realisasi, kualitas output, ketepatan sasaran dan manfaatnya.
๐๐ฃ๐ฅ๐ ๐ ๐จ๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐จ๐๐ ๐ฃ๐๐๐๐๐ฆ๐๐ก๐๐๐ก ๐ฃ๐ฅ๐ข๐๐ฅ๐๐
Memasuki September 2026, DPRD mulai memberikan sejumlah catatan terhadap pelaksanaan pemerintahan dan perubahan APBD.
Fraksi Gerindra meminta pemerintah memfokuskan anggaran pada 12 program unggulan dan menuntaskannya sebelum masa jabatan berakhir.
Fraksi NasDem menyoroti pengawasan belanja, SILPA dan pentingnya perhatian terhadap irigasi pertanian.
Fraksi DemokratโPPP Pembangunan menyoroti kerusakan jalan dan meminta peningkatan belanja modal untuk penanganannya.
Catatan tersebut adalah pandangan politik fraksi DPRD, bukan kesimpulan independen mengenai kinerja pemerintah.
Namun secara substantif, kritik tersebut menunjukkan bahwa DPRD mulai menggunakan program, anggaran dan capaian pembangunan sebagai bahan pengawasan.
๐๐๐ฅ๐ข๐๐ฅ๐๐ฆ๐ ๐๐๐ก ๐ฃ๐๐๐๐ฌ๐๐ก๐๐ก ๐ฃ๐จ๐๐๐๐
Evaluasi pemerintahan juga tidak berhenti pada proyek fisik.
Kinerja birokrasi menentukan apakah program pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat.
Dalam penelitian akademik mengenai persepsi publik terhadap Pemerintah Kabupaten Sumbawa, aspek pelayanan administrasi dan digitalisasi layanan mendapatkan penilaian positif, sementara infrastruktur, bantuan sosial dan komunikasi publik disebut membutuhkan perhatian berdasarkan analisis prioritas.
Pada saat yang sama, pemerintah juga melakukan sejumlah langkah pembenahan tata kelola dan evaluasi kinerja.
Artinya, agenda reformasi birokrasi belum dapat dianggap selesai.
Ia merupakan proses yang harus diukur dari kualitas pelayanan, kecepatan respons, transparansi, profesionalitas ASN dan kepuasan masyarakat.
๐๐๐๐, ๐๐ฃ๐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐ฆ๐จ๐๐๐ ๐ง๐๐ฅ๐๐๐๐๐ง?
Jika seluruh data tersebut disusun secara kronologis, terdapat sejumlah jejak yang sudah cukup jelas.
Pertama, pemerintahan baru telah membentuk kerangka perencanaan melalui RPJMD 2025โ2029.
Kedua, 12 program unggulan telah dimasukkan ke dalam sistem perencanaan dan penganggaran.
Ketiga, penataan birokrasi telah dilakukan melalui mutasi 89 pejabat.
Keempat, pembangunan infrastruktur pertanian dan pengairan telah mendapatkan dukungan anggaran besar.
Kelima, Kartu Sumbawa Pintar telah menjangkau 444 mahasiswa hingga Juni 2026.
Keenam, terdapat dukungan terhadap industri lokal dan agenda investasi.
Ketujuh, perubahan APBD 2026 meningkatkan ruang belanja daerah.
Kedelapan, pemerintah mulai berhadapan dengan pengujian publik melalui DPRD dan survei persepsi masyarakat.
Semua itu merupakan jejak yang dapat didokumentasikan.
๐๐๐๐จ, ๐๐ฃ๐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐ ๐๐ฆ๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐๐๐ฅ๐๐๐๐ก?
Di sisi lain, sejumlah indikator menunjukkan pekerjaan besar masih tersisa.
Target jalan mantap 80 persen belum tercapai.
Kemandirian fiskal masih menghadapi ketergantungan terhadap transfer.
Realisasi investasi hingga pertengahan 2026 masih jauh dari target tahunan.
Sejumlah kebutuhan pendidikan dasar di wilayah terpencil masih membutuhkan intervensi.
Sebagian program masih harus dibuktikan dampaknya, bukan hanya pelaksanaannya.
Komunikasi publik terhadap sebagian program juga masih menjadi persoalan dalam persepsi masyarakat.
Dan survei MY Institute menunjukkan bahwa meskipun 57,2 persen responden menyatakan puas, masih terdapat 42,8 persen yang menyatakan tidak puas.
Semua indikator tersebut merupakan bahan evaluasi, bukan vonis akhir.
๐ ๐๐ก๐๐จ๐๐จ๐ฅ ๐ฃ๐๐ ๐๐ฅ๐๐ก๐ง๐๐๐๐ก ๐๐๐ก๐๐๐ก ๐๐ข๐๐๐ ๐๐ก๐๐๐๐ฅ๐๐ก โ ๐ข๐จ๐ง๐ฃ๐จ๐ง โ ๐ข๐จ๐ง๐๐ข๐ ๐
Ada satu hal penting yang dapat dipelajari dari seluruh penelusuran ini.
Pemerintahan tidak cukup diukur dari banyaknya program.
Hubungan yang harus dilihat adalah:
Anggaran โ kegiatan โ output โ outcome โ perubahan kehidupan masyarakat.
Membangun irigasi adalah output.
Tetapi meningkatnya indeks pertanaman dan pendapatan petani adalah outcome.
Membangun jalan adalah output.
Tetapi menurunnya biaya transportasi, meningkatnya mobilitas dan berkembangnya aktivitas ekonomi adalah outcome.
Memberikan beasiswa adalah output.
Tetapi meningkatnya akses pendidikan dan kualitas SDM adalah outcome.
Membentuk satgas adalah output kelembagaan.
Tetapi stabilnya harga dan meningkatnya perlindungan petani adalah outcome.
Di sinilah evaluasi pemerintahan menjadi lebih substantif.
๐ฃ๐จ๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐ฅ๐๐จ ๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ฆ๐๐๐๐ก๐
Pada September 2026, pemerintahan JarotโAnsori belum memasuki akhir masa jabatan.
Karena itu, belum tepat membuat kesimpulan akhir mengenai keberhasilan atau kegagalan pemerintahan.
Namun sekarang justru merupakan waktu yang tepat untuk membangun baseline evaluasi publik.
Masyarakat dapat memantau sedikitnya 12 indikator:
1. Jalan mantap menuju target 80 persen.
2. Pertumbuhan pendapatan daerah dan PAD.
3. Infrastruktur pengairan pertanian.
4. Produktivitas dan pendapatan petani.
5. Investasi dan industrialisasi produk lokal.
6. Perlindungan harga benih, pupuk, gabah dan jagung.
7. Perlindungan pekerja rentan.
8. Program insentif pemuka agama.
9. Pertumbuhan UMKM dan entrepreneur muda.
10. Kualitas lingkungan dan ruang publik.
11. Kinerja birokrasi dan pelayanan publik.
12. Pendidikan, kesehatan, gizi dan Kartu Sumbawa Pintar.
Jika indikator tersebut dipantau setiap tahun, masyarakat tidak perlu menunggu akhir masa jabatan untuk memahami arah pembangunan.
Publik dapat melihat sendiri:
mana yang meningkat,
mana yang stagnan,
dan mana yang masih membutuhkan percepatan.
๐ฅ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐ ๐๐ฆ๐๐ ๐๐๐ง๐จ๐๐๐ฆ
Hingga 26 September 2026, pemerintahan JarotโAnsori telah berjalan sekitar satu tahun tujuh bulan.
Dalam periode tersebut, sejumlah program sudah memasuki tahap pelaksanaan.
Tetapi perjalanan pemerintahan masih panjang.
Target jalan 80 persen belum tercapai.
Kemandirian fiskal masih menjadi tantangan.
Investasi masih harus dikejar.
Infrastruktur dasar di sejumlah wilayah masih membutuhkan perhatian.
Dan persepsi publik menunjukkan gambaran yang beragam: terdapat masyarakat yang puas dan melihat arah pembangunan membaik, tetapi terdapat pula kelompok yang belum merasakan perubahan berarti.
Data MY Institute, misalnya, menunjukkan 57,2 persen responden menyatakan puas, tetapi 57 persen juga menilai kondisi pembangunan masih โsama sajaโ. Dua angka tersebut tidak harus dipertentangkan.
Keduanya justru menunjukkan bahwa kepuasan terhadap pemerintahan dan persepsi terhadap perubahan pembangunan merupakan dua hal yang berbeda.
Seseorang dapat menilai pelayanan pemerintah cukup baik, tetapi pada saat yang sama belum melihat perubahan besar pada kondisi jalan, lapangan kerja atau pembangunan di wilayahnya.
Karena itu, evaluasi pemerintahan perlu membaca banyak indikator sekaligus.
Pada akhirnya, rekam jejak pemerintahan tidak ditulis hanya oleh pidato kepala daerah.
Ia juga tidak ditentukan oleh pemberitaan yang memuji atau mengkritik.
Rekam jejak pemerintahan ditulis oleh:
data,
keputusan,
anggaran,
pembangunan,
pelayanan publik,
dan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Perjalanan JarotโAnsori masih berlangsung.
Maka pertanyaan penting bagi Sumbawa bukan sekadar:
โApa yang sudah dilakukan?โ
Tetapi:
โApa yang sudah berubah?โ
Dan pertanyaan yang lebih penting untuk tahun-tahun berikutnya adalah:
โApa yang harus dituntaskan sebelum lima tahun mandat pemerintahan berakhir?โ
Desa Smart
Literasi, Informasi dan Edukasi Publik
๐๐๐ง๐๐ง๐๐ก ๐ฃ๐๐ก๐จ๐๐๐ฆ
Artikel ini merupakan penelusuran rekam jejak pemerintahan Kabupaten Sumbawa di bawah kepemimpinan JarotโAnsori berdasarkan informasi yang dapat ditelusuri hingga 26 September 2026.
Data yang berasal dari pemerintah, BPK, KPU dan dokumen perencanaan disajikan sebagai data atau laporan dari lembaga tersebut.
Pendapat dan kritik DPRD disajikan sebagai pandangan fraksi atau anggota DPRD yang menyampaikannya, bukan sebagai kesimpulan independen.
Hasil survei juga tidak diposisikan sebagai kebenaran tunggal mengenai kinerja pemerintahan. Setiap survei memiliki metodologi, waktu pengumpulan data, ukuran sampel dan instrumen masing-masing.
Khusus WTP atas LKPD Tahun Anggaran 2024, capaian tersebut tidak secara langsung dapat diklaim sebagai hasil pemerintahan JarotโAnsori karena pemeriksaan tersebut menyangkut tahun anggaran sebelum mereka dilantik. Namun WTP tersebut merupakan bagian dari fondasi tata kelola keuangan yang kemudian harus dipertahankan oleh pemerintahan berikutnya.
Demikian pula program dan kegiatan yang telah direncanakan sebelum Februari 2025 perlu dibaca secara proporsional ketika menentukan kontribusi pemerintahan baru.
Artikel ini tidak dimaksudkan untuk memberikan penilaian politik, melainkan menyajikan informasi agar masyarakat memiliki dasar yang lebih baik dalam membaca perkembangan pembangunan Kabupaten Sumbawa.
๐ฆ๐จ๐ ๐๐๐ฅ ๐ฅ๐จ๐๐จ๐๐๐ก
1. KPU Kabupaten Sumbawa โ Keputusan Penetapan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Tahun 2024.
2. Pemerintah Kabupaten Sumbawa โ Visi, Misi dan 12 Program Unggulan Pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Periode 2025โ2030.
3. Pemerintah/Bapperida Kabupaten Sumbawa โ Dokumen dan informasi RPJMD Kabupaten Sumbawa 2025โ2029.
4. BPK RI Perwakilan NTB โ Laporan Hasil Pemeriksaan atas LKPD Kabupaten Sumbawa Tahun Anggaran 2024.
5. Pemerintah Kabupaten Sumbawa/Bapperida โ Perkembangan 12 Program Unggulan hingga Juni 2026.
6. RRI โ Capaian program ketahanan air dan pertanian Kabupaten Sumbawa.
7. RRI โ Kartu Sumbawa Pintar dan 444 mahasiswa penerima manfaat.
8. Pemerintah Kabupaten Sumbawa/DPMPTSP โ Data realisasi investasi 2026.
9. Pemerintah Kabupaten Sumbawa/DPRD โ Perubahan KUA-PPAS dan APBD 2026.
10. DPRD Kabupaten Sumbawa โ Pandangan umum fraksi terhadap Perubahan APBD 2026.
11. Jurnal Tambora / Universitas Teknologi Sumbawa โ Survei Kepuasan Masyarakat terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Tahun 2025, Joni Firmansyah, Rachmat Wasqita dan Fenna Aksara.
12. Jurnal Kapita Selekta Administrasi Publik / Universitas Samawa โ Analisis Persepsi Publik terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Tahun 2025.
13. MY Institute โ Survei โSumbawa Hijau Lestari serta Program Strategis Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Periode 2025โ2030 dalam Persepsi Publikโ, Juni 2026.
14. Magna Selekta Institute โ Survei persepsi/kinerja Pemerintah Kabupaten Sumbawa tahun 2025.
15. Media daerah dan nasional โ digunakan sebagai sumber pendukung untuk kronologi kegiatan pemerintahan dan perkembangan pembangunan yang disebutkan dalam artikel.
๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ด๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ป๐ฒ๐บ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐น๐ถ ๐ฅ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐จ๐ป๐๐๐ธ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐ถ๐ธ๐ถ๐ฟ
Keterangan ilustrasi: Di tengah dunia yang semakin terkoneksi, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi bagian penting dari literasi digital.
Bayangkan seseorang duduk sendirian di sebuah ruangan pada malam hari. Di tangannya ada sebuah telepon pintar. Tidak ada percakapan, tidak ada televisi yang menyala, tidak ada suara pemberitahuan pesan masuk. Hanya ada seseorang yang sedang diam dan berpikir.
Pemandangan sederhana semacam itu mungkin terasa semakin asing dalam kehidupan modern.
Kita hidup dalam sebuah zaman ketika informasi datang hampir tanpa jeda. Pesan WhatsApp, surel, media sosial, berita, video pendek, notifikasi aplikasi hingga berbagai layanan digital berlomba mendapatkan perhatian manusia.
Teknologi membuat hidup lebih mudah. Namun, pada saat yang sama, teknologi juga menghadirkan persoalan baru: siapa sebenarnya yang mengendalikan perhatian kita?
๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ก๐ผ๐๐ถ๐ณ๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ถ ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐๐๐ฟ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐ฎ๐ป
Salah satu perubahan paling nyata pada era digital adalah munculnya pola komunikasi yang bersifat terus-menerus.
Dahulu, seseorang harus membuka surat, menyalakan televisi, membeli koran atau menunggu telepon untuk memperoleh informasi. Kini, informasi dapat muncul langsung di layar dalam hitungan detik.
Kemudahan tersebut memiliki konsekuensi terhadap perhatian.
American Psychological Association merangkum sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa notifikasi telepon pintar dapat berkaitan dengan meningkatnya gangguan perhatian. Dalam salah satu penelitian yang dibahas APA, peserta yang menerima notifikasi lebih banyak melaporkan tingkat ketidakfokusan yang lebih tinggi dibandingkan ketika notifikasi dimatikan.
Artinya bukan berarti telepon pintar selalu buruk.
Masalahnya lebih sederhana: perhatian manusia memiliki kapasitas terbatas.
Ketika perhatian terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain, seseorang mungkin tetap merasa sibuk, tetapi belum tentu sedang melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi mendalam.
๐ ๐๐น๐๐ถ๐๐ฎ๐๐ธ๐ถ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐น๐๐บ ๐ง๐ฒ๐ป๐๐ ๐๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ฃ๐ฟ๐ผ๐ฑ๐๐ธ๐๐ถ๐ณ
Dalam budaya digital, kemampuan melakukan banyak hal sekaligus sering dianggap sebagai kelebihan.
Membaca pesan sambil bekerja.
Menonton video sambil makan.
Mengikuti rapat sambil membuka media sosial.
Membalas pesan sambil membaca berita.
Namun, penelitian mengenai media multitasking menunjukkan bahwa perilaku berpindah-pindah perhatian cukup sering terjadi dalam aktivitas digital. Sebuah studi yang diterbitkan Scientific Reports pada 2023, misalnya, menganalisis hampir 3.000 peserta dalam berbagai penelitian daring dan menemukan bahwa perilaku media multitasking muncul dengan rata-rata sekitar 38 persen, meskipun angkanya sangat bervariasi antarpenelitian.
Temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap bentuk multitasking pasti merugikan.
Yang perlu dipahami adalah bahwa melakukan banyak aktivitas digital secara bersamaan tidak sama dengan memberikan perhatian penuh kepada semuanya.
Ada pekerjaan yang memang dapat dilakukan secara paralel. Tetapi ada pula pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, pemahaman, pengambilan keputusan, dan kemampuan berpikir secara mendalam.
๐๐ถ๐ด๐ถ๐๐ฎ๐น ๐๐ฒ๐๐ผ๐ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ฟ๐๐ถ ๐ ๐ฒ๐ป๐ผ๐น๐ฎ๐ธ ๐ง๐ฒ๐ธ๐ป๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ
Literasi digital sering dipahami sebatas kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi.
Padahal, literasi digital yang lebih matang juga mencakup kemampuan mengatur hubungan kita dengan teknologi.
Seseorang yang mampu menggunakan teknologi tetapi tidak mampu mengatur kapan harus berhenti menerima informasi masih menghadapi persoalan literasi digital.
Karena itu, digital wellbeing tidak harus diterjemahkan sebagai meninggalkan teknologi.
Justru sebaliknya: teknologi digunakan secara sadar sesuai kebutuhan.
Mematikan notifikasi yang tidak penting, misalnya, merupakan tindakan sederhana untuk mengurangi gangguan. APA juga menyarankan pengguna mempertimbangkan notifikasi mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang dapat ditunda.
Dengan demikian, persoalannya bukan online atau offline, melainkan sadar atau otomatis.
๐ฆ๐ฎ๐๐ ๐๐ฎ๐บ ๐๐ฒ๐ต๐ฒ๐ป๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฅ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐ถ๐ธ๐ถ๐ฟ
Tidak semua waktu harus diisi dengan informasi.
Ada nilai penting dalam menyediakan waktu untuk membaca buku tanpa gangguan, berjalan kaki, berbicara langsung dengan keluarga, menikmati lingkungan sekitar, menulis, beribadah, atau sekadar duduk tanpa harus membuka layar.
Jeda semacam ini bukan berarti membenci teknologi. Ia merupakan cara untuk mengembalikan keputusan kepada manusia.
WHO sendiri menempatkan pengurangan perilaku sedentari sebagai bagian dari pedoman aktivitas fisik dan kesehatan. WHO menekankan bahwa semua aktivitas fisik memiliki nilai dan bahwa waktu yang dihabiskan dalam perilaku sedentari perlu dibatasi.
Karena itu, satu jam tanpa notifikasi dapat dimaknai bukan sebagai โsatu jam kehilangan informasiโ, melainkan satu jam mendapatkan kembali perhatian.
๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ถ๐๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐น๐ ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ ๐๐ถ๐ด๐ถ๐๐ฎ๐น?
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dicoba.
Pertama, buat zona tanpa notifikasi.
Tidak semua pesan harus diketahui saat itu juga. Notifikasi yang tidak penting dapat dimatikan atau dijadwalkan.
Kedua, pisahkan waktu kerja dan waktu istirahat.
Jika memungkinkan, hindari membawa seluruh pekerjaan digital ke ruang pribadi dan waktu istirahat.
Ketiga, biasakan satu pekerjaan dalam satu waktu.
Ketika membaca, membaca. Ketika menulis, menulis. Ketika berbicara dengan seseorang, berikan perhatian kepada orang tersebut.
Keempat, sisihkan waktu tanpa layar.
Tidak harus berjam-jam. Bahkan waktu singkat yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi latihan untuk membangun kembali kebiasaan memperhatikan.
Kelima, jangan mengukur kehidupan hanya dari banyaknya informasi yang diterima.
Informasi yang banyak belum tentu menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan yang banyak belum tentu menghasilkan pemahaman. Dan pemahaman membutuhkan waktu untuk berpikir.
๐ง๐ฒ๐ธ๐ป๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐ฆ๐ฒ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐๐ป๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐๐ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐๐ถ๐ฎ
Era digital tidak perlu dilihat sebagai pertentangan antara manusia dan teknologi.
Teknologi adalah alat.
Ia dapat membantu petani mendapatkan informasi cuaca, pemerintah desa mengelola data, pelajar mengakses pengetahuan, pelaku usaha memasarkan produk, tenaga kesehatan berkomunikasi, dan masyarakat memperoleh layanan publik.
Namun, sebuah alat yang baik tetap membutuhkan pengguna yang mampu mengendalikannya.
Karena itu, salah satu bentuk literasi digital yang penting pada masa kini bukan hanya mengetahui cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengetahui kapan harus menggunakannya dan kapan harus berhenti sejenak.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak waktu.
Kita hanya perlu lebih sadar terhadap bagaimana waktu dan perhatian kita digunakan.
Sebab di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara, notifikasi, informasi, dan percakapan digital, kemampuan untuk diam sejenak bukanlah keterbelakangan. Ia bisa menjadi bentuk baru dari kecakapan manusia.
๐๐๐ง๐๐ง๐๐ก ๐ฃ๐๐ก๐จ๐๐๐ฆ
Tulisan ini merupakan artikel ilmiah populer untuk literasi dan edukasi publik. Pembahasan mengenai penggunaan teknologi, perhatian, media multitasking, aktivitas sedentari, dan kesejahteraan digital disusun berdasarkan sumber penelitian dan lembaga kesehatan yang dirujuk. Temuan ilmiah mengenai teknologi dan perilaku manusia terus berkembang sehingga hubungan sebab-akibat tidak selalu dapat disederhanakan menjadi โteknologi baikโ atau โteknologi burukโ.
๐ฆ๐จ๐ ๐๐๐ฅ ๐ฅ๐จ๐๐จ๐๐๐ก
1. American Psychological Association (APA) โ Connected and Content: Managing Healthy Technology Use. Membahas penggunaan teknologi, notifikasi, perhatian, dan kesejahteraan.
2. Drody, A. C., Pereira, E. J., & Smilek, D. (2023) โ A desire for distraction: uncovering the rates of media multitasking during online research studies, Scientific Reports, 13, 781.
3. World Health Organization (WHO) โ WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Pedoman berbasis bukti mengenai aktivitas fisik dan perilaku sedentari.
4. World Health Organization (WHO) โ Physical Activity. Informasi mengenai aktivitas fisik, perilaku sedentari, dan kaitannya dengan kesehatan.
Gagasan utama: Di era ketika teknologi semakin cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak mungkin justru menjadi salah satu bentuk literasi digital yang paling penting.
๐๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฅ๐ช๐จ๐ช๐ต๐ข๐ญ๐ช๐ด๐ข๐ด๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ข, ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฑ๐ญ๐ข๐ต๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ด๐ข ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ช, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
Oleh: Redaksi DESA SMART
Ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan ketika membicarakan Program Desa Berdaya NTB:
Apakah sebuah desa benar-benar menjadi berdaya hanya karena sudah memiliki platform digital, sistem informasi, dan berbagai program pendampingan?
Pertanyaan ini penting karena istilah berdaya sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar terhubung secara digital.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menetapkan Peraturan Gubernur NTB Nomor 23 Tahun 2025 tentang Desa Berdaya sebagai salah satu landasan program. Regulasi tersebut menetapkan Desa Berdaya melalui dua pendekatan, yakni Desa Berdaya Transformatif dan Desa Berdaya Tematik, dengan tujuan antara lain mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat desa serta mempercepat kemandirian ekonomi masyarakat desa dan kelurahan. Regulasi itu juga ditempatkan dalam kerangka RPJMD NTB 2025โ2029.
Artinya, Desa Berdaya sejak awal memang tidak dirancang semata-mata sebagai proyek pembuatan website desa.
Di dalam implementasinya, Sistem Informasi Desa (SID) kemudian ditempatkan sebagai salah satu fondasi penting. Bappeda NTB menjelaskan bahwa SID diarahkan untuk mendukung tata kelola pemerintahan desa yang transparan, akuntabel, dan partisipatif, sekaligus menyediakan informasi mengenai program, kegiatan, perkembangan, hingga penerima manfaat kepada masyarakat.
Secara konsep, arah ini menarik.
Tetapi justru di sinilah pertanyaan yang lebih mendasar dimulai.
๐ฃ๐๐๐ง๐๐ข๐ฅ๐ ๐๐จ๐๐๐ก ๐ฆ๐๐ ๐ ๐๐๐ก๐๐๐ก ๐ฃ๐๐ ๐๐๐ฅ๐๐๐ฌ๐๐๐ก
Membangun platform relatif mudah.
Yang jauh lebih sulit adalah membuat desa mampu menggunakannya secara mandiri, memperbarui datanya, mengembangkan layanannya, menjaga keamanannya, membaca data untuk mengambil keputusan, dan memastikan sistem tersebut tetap hidup ketika pendampingan berakhir.
Karena itu, keberadaan website atau SID seharusnya tidak langsung dianggap sebagai bukti bahwa sebuah desa sudah berdaya.
Data evaluasi yang dipublikasikan Bappeda NTB pada September 2025 bahkan menunjukkan persoalan yang sangat menarik: dari 106 desa yang telah dipantau, 45 desa disebut telah mengimplementasikan SID secara aktif, 47 desa memiliki SID tetapi tidak diperbarui, dan 5 desa belum memilikinya. Angka-angka yang dipublikasikan tersebut sendiri belum menjumlahkan seluruh 106 desa, sehingga data itu perlu dibaca secara hati-hati dan tidak dianggap sebagai distribusi lengkap seluruh desa yang dipantau.
Namun ada satu pesan penting yang tetap dapat dibaca dari data tersebut:
memiliki sistem belum tentu sama dengan mampu menghidupkan sistem.
Di sinilah ukuran keberdayaan digital desa seharusnya mulai diperluas.
Bukan hanya:
โApakah desa memiliki website?โ
Tetapi:
โSiapa yang mengelolanya?โ
โSiapa yang memiliki kendali terhadap data?โ
โSeberapa bebas desa mengembangkan sistem sesuai kebutuhannya?โ
โApakah perangkat desa memiliki kapasitas untuk memperbaruinya?โ
Dan yang paling penting:
โApakah sistem tersebut tetap berjalan ketika program pendampingan selesai?โ
๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐ง๐๐, ๐ง๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐จ๐ ๐ง๐๐ก๐ง๐จ ๐๐๐ฅ๐๐๐ฌ๐
Inilah perbedaan antara digitalisasi desa dan pemberdayaan digital desa.
Digitalisasi dapat menghasilkan perangkat, aplikasi, website, dashboard, dan basis data.
Pemberdayaan harus menghasilkan kemampuan.
Sebuah desa dapat memiliki website yang tampil menarik, tetapi apabila seluruh perubahan konten harus menunggu pihak lain, kemampuan pengelolaannya terbatas, data tidak diperbarui, atau desa tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengembangkan sistem sesuai kebutuhan lokal, maka teknologi tersebut belum sepenuhnya menjadi kekuatan desa.
Ini bukan berarti platform tersebut tidak berguna.
Sebaliknya, platform dapat menjadi infrastruktur penting untuk membuka akses informasi, memperbaiki administrasi, membangun transparansi, dan menyediakan basis data pembangunan.
Tetapi teknologi hanyalah alat.
Yang menentukan keberdayaan adalah kapasitas manusia dan kelembagaan yang berada di belakang alat tersebut.
๐ฃ๐๐ฅ๐ฆ๐ข๐๐๐๐ก ๐ฆ๐๐๐๐ก๐๐ฅ๐ก๐ฌ๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐จ๐๐ฆ๐๐๐ก ๐จ๐ก๐ง๐จ๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ข๐๐
Ketika sebuah sistem informasi ditempatkan di desa, pertanyaan tentang teknologi pada akhirnya akan bertemu dengan pertanyaan tentang kewenangan.
Sejauh mana desa dapat menentukan isi, mengelola data, memperbaiki informasi, mengembangkan layanan, dan menggunakan data tersebut untuk menentukan kebijakan pembangunan?
Semakin besar kemampuan desa mengelola sistemnya sendiri, semakin besar pula peluang teknologi menjadi instrumen pemberdayaan.
Sebaliknya, apabila desa hanya menjadi pengguna akhir dari sebuah sistem yang desain, pengembangan, dan keputusan utamanya berada di luar desa, maka perlu dipastikan apakah desa sedang diberdayakan atau sekadar didigitalisasi.
Ini bukan tuduhan terhadap desain program tertentu.
Ini adalah pertanyaan tata kelola yang justru penting diajukan sejak awal agar tujuan pemberdayaan tidak berhenti pada indikator kepemilikan platform.
๐ข๐ฃ๐๐ก ๐ฆ๐ข๐จ๐ฅ๐๐ ๐๐จ๐๐๐ก ๐๐จ๐ง๐ข๐ ๐๐ง๐๐ฆ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐ข๐ง๐ข๐ก๐ข๐
Bappeda NTB menjelaskan bahwa SID dipilih antara lain karena bersifat open source serta relatif mudah diakses dan digunakan oleh desa.
Ini merupakan fondasi yang penting.
Namun open source juga tidak otomatis berarti seluruh desa memiliki kapasitas untuk menguasai teknologi tersebut.
Keterbukaan kode berbeda dengan kemampuan mengelola sistem.
Desa tetap membutuhkan operator yang terampil, tata kelola data, dokumentasi, dukungan teknis, keamanan, pembaruan sistem, serta kelembagaan yang mampu memastikan pengetahuan tidak hilang ketika orang yang mengelolanya berpindah tugas.
Karena itu, keberhasilan digitalisasi desa tidak cukup diukur dari berapa banyak desa yang sudah terpasang sistem.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak desa yang mampu mengelolanya secara berkelanjutan.
๐ฃ๐๐ก๐๐๐ ๐ฃ๐๐ก๐๐๐ก: ๐๐๐ก๐๐๐ก ๐ฆ๐๐ ๐ฃ๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ง๐๐ฅ๐๐๐ก๐ง๐จ๐ก๐๐๐ก
Desain Desa Berdaya juga melibatkan perguruan tinggi. Bappeda NTB menyebut sembilan perguruan tinggi terlibat dalam penguatan SID dan program tematik, termasuk melalui pola desa binaan selama tiga tahun. Mahasiswa antara lain diarahkan membantu pengamatan SID, fasilitasi penyediaan dan pembaruan data, pelayanan administrasi desa, serta pengelolaan website desa.
Pendekatan semacam ini dapat menjadi mekanisme transfer pengetahuan.
Tetapi ada pertanyaan yang harus selalu menyertainya:
Apa yang terjadi setelah pendamping pergi?
Jika setelah tiga tahun desa justru kembali membutuhkan pihak luar untuk melakukan pekerjaan yang sama, maka keberhasilan pendampingan perlu dievaluasi kembali.
Pendampingan yang baik seharusnya membuat desa semakin mampu berdiri sendiri, bukan semakin bergantung kepada pendamping.
Dengan kata lain:
pendampingan seharusnya meninggalkan kemampuan, bukan ketergantungan.
๐ฃ๐ฅ๐ข๐๐ฅ๐๐ ๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐ฅ๐๐๐ก๐ง๐, ๐ง๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐๐๐ฃ๐๐ฆ๐๐ง๐๐ฆ ๐๐๐ฆ๐ ๐๐๐ก๐๐๐ก ๐๐๐จ๐ง ๐๐๐๐๐ก๐
Ada satu persoalan lain yang sering luput dari pembicaraan tentang program pembangunan: keberlanjutan lintas pemerintahan.
Desa Berdaya saat ini ditempatkan dalam kerangka RPJMD NTB 2025โ2029.
Tetapi pembangunan desa berlangsung jauh lebih lama daripada satu periode perencanaan.
Karena itu, pertanyaan strategisnya bukan apakah sebuah program akan dipertahankan dengan nama yang sama.
Pertanyaannya adalah:
Apa yang akan tetap tinggal di desa apabila suatu hari nama program berubah, kebijakan berubah, anggaran berubah, atau prioritas pemerintahan berubah?
Perubahan pemerintahan merupakan bagian normal dari siklus demokrasi dan administrasi negara. Setiap pemerintahan dapat membawa penekanan kebijakan yang berbeda.
Yang perlu dijaga adalah agar perubahan tersebut tidak membuat desa kehilangan hasil pembelajaran yang telah dibangun.
Jika hari ini desa dilatih mengelola data, maka kemampuan tersebut harus tetap berada di desa.
Jika hari ini desa dibangun sistem informasinya, maka pengetahuan mengelolanya harus tetap berada di desa.
Jika hari ini desa memperoleh pendampingan, maka setelah pendampingan berakhir desa semestinya memiliki kemampuan yang lebih tinggi daripada sebelumnya.
Program boleh berganti. Pemerintahan boleh berganti. Kepala daerah boleh berganti. Tetapi kapasitas desa seharusnya tidak ikut berganti.
๐๐๐ฅ๐ ๐ช๐๐ฅ๐๐ฆ๐๐ก ๐ฃ๐ฅ๐ข๐๐ฅ๐๐ ๐ ๐๐ก๐จ๐๐จ ๐ช๐๐ฅ๐๐ฆ๐๐ก ๐๐๐ ๐๐ ๐ฃ๐จ๐๐ก
Inilah tantangan terbesar Desa Berdaya.
Jangan sampai yang diwariskan kepada desa hanya nama program, logo, website, aplikasi, dashboard, dokumen, dan laporan kegiatan.
Yang jauh lebih penting adalah warisan kemampuan.
Desa harus memiliki kemampuan membaca kondisi sosial-ekonominya sendiri.
Desa harus mampu mengetahui siapa yang membutuhkan intervensi.
Desa harus mampu memperbarui dan menjaga datanya.
Desa harus mampu menggunakan data untuk menyusun prioritas.
Desa harus mampu mengelola teknologi yang digunakan.
Dan yang tidak kalah penting, desa harus mampu mempertahankan pengetahuan tersebut ketika personel, pendamping, maupun pemerintahan berubah.
Pada titik inilah istilah โDesa Berdayaโ memperoleh ukuran yang lebih konkret.
Desa berdaya bukan sekadar desa yang memiliki platform.
Desa berdaya adalah desa yang memiliki kemampuan untuk menggunakan platform sebagai alat untuk mengurus dirinya sendiri.
๐ฃ๐๐ก๐จ๐ง๐จ๐ฃ: ๐ฃ๐๐ฅ๐ง๐๐ก๐ฌ๐๐๐ก ๐ฌ๐๐ก๐ ๐ฆ๐๐๐๐ฅ๐จ๐ฆ๐ก๐ฌ๐ ๐ง๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐ก๐
Desa Berdaya memiliki gagasan yang luas: pemberdayaan, penguatan ekonomi, pengurangan kemiskinan, pengembangan potensi lokal, penguatan data, serta pemanfaatan teknologi.
Tetapi justru karena gagasannya besar, ukuran keberhasilannya tidak boleh berhenti pada jumlah program yang dilaksanakan.
Ukuran terpentingnya adalah perubahan kemampuan desa.
Apakah desa semakin mampu mengambil keputusan berdasarkan data?
Apakah desa semakin mampu mengelola teknologi sendiri?
Apakah desa semakin mampu mengembangkan ekonominya?
Apakah masyarakat semakin memiliki akses terhadap informasi pembangunan?
Dan akhirnya:
Ketika program ini suatu hari selesai, apa yang akan tetap tinggal di desa?
Jika jawabannya adalah kemampuan, pengetahuan, data yang terkelola, kelembagaan yang kuat, dan sistem yang dapat terus dikembangkan, maka pemberdayaan memiliki fondasi yang kuat.
Tetapi jika yang tersisa hanya platform yang tidak diperbarui dan website yang sekadar menjadi etalase informasi, maka kita perlu bertanya kembali: apakah desa sudah benar-benar berdaya, atau baru sekadar terlihat digital?
Inilah provokasi intelektual yang perlu terus dijaga.
Sebab membangun platform mungkin membutuhkan anggaran dan teknologi, tetapi membangun desa yang mampu menguasai platform membutuhkan waktu, manusia, kewenangan, dan keberlanjutan.
Dan jangan sampai setiap pergantian pemerintahan melahirkan program baru, sementara desa kembali harus belajar dari nol.
๐๐ฎ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฅ๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ธ๐๐ถ Desa Smart
Tulisan ini merupakan analisis editorial atas arah dan desain kebijakan Desa Berdaya NTB. Pernyataan mengenai pelaksanaan program merujuk pada dokumen regulasi dan publikasi resmi pemerintah; sedangkan pertanyaan mengenai kewenangan, kapasitas, dan keberlanjutan merupakan sudut pandang analitis yang dimaksudkan untuk mendorong diskusi publik yang konstruktif.
๐ฆ๐จ๐ ๐๐๐ฅ ๐ฅ๐จ๐๐จ๐๐๐ก
โข Peraturan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 23 Tahun 2025 tentang Desa Berdaya, JDIH Provinsi Nusa Tenggara Barat.
โข Bappeda Provinsi NTB โ Penguatan Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi dalam rangka Implementasi Sistem Informasi Desa (SID) sebagai Bagian dari Upaya Akselerasi Program Unggulan Desa Berdaya, 18 September 2025.
โข Bappeda Provinsi NTB โ Penguatan Sistem Informasi Desa (SID) Jadi Fondasi Program Unggulan Desa Berdaya, 9 Januari 2026.
โข Bappeda Provinsi NTB โ NTB Perkuat Sistem Informasi Desa, Pemprov NTT Lakukan Studi Tiru SID, 9 September 2026.[JDIH Provinsi NTB โ Pergub Nomor 23 Tahun 2025 tentang Desa Berdaya.
๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐ถ๐ด๐ถ๐๐ฎ๐น๐ถ๐๐ฎ๐๐ถ ๐๐ฒ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฒ๐ป๐๐ถ ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐ป๐๐ฎ ๐๐ฎ๐๐ฎ
Transformasi digital desa sering kali dipahami sebagai cerita tentang aplikasi, website, server, jaringan internet, dan berbagai sistem informasi yang semakin banyak digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Padahal, di balik seluruh perangkat teknologi tersebut terdapat sesuatu yang jauh lebih penting: data. Setiap pelayanan administrasi, pendataan penduduk, pembangunan, kegiatan pemerintahan, pemberitaan desa, aktivitas ekonomi masyarakat, hingga penggunaan Sistem Informasi Desa menghasilkan informasi yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Desa hari ini sesungguhnya bukan lagi wilayah yang miskin data. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah apakah data yang begitu banyak tersebut benar-benar dibaca, dipahami, dan digunakan untuk mengambil keputusan.
Di sinilah paradoks digitalisasi desa mulai terlihat. Teknologi membuat proses pencatatan menjadi semakin mudah, tetapi kemudahan mencatat tidak otomatis membuat pemerintah desa semakin memahami kondisi masyarakatnya. Sebuah desa dapat memiliki banyak aplikasi, banyak tabel, banyak dokumen, bahkan banyak dashboard statistik, tetapi tetap kesulitan menjawab pertanyaan sederhana tentang apa yang sebenarnya sedang berubah di wilayahnya. Data yang hanya dikumpulkan akan menjadi arsip digital; data yang dianalisis dapat berubah menjadi pengetahuan; dan pengetahuan yang digunakan dalam kebijakan barulah memiliki nilai pembangunan.
๐๐ฒ๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ ๐๐ฎ๐๐ฎ, ๐ง๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐๐ฒ๐น๐๐บ ๐ง๐ฒ๐ป๐๐ ๐ ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐๐ฎ๐ต๐๐ฎ๐ป
Persoalan utama dalam tata kelola data desa bukan semata-mata ketersediaan data, melainkan kemampuan untuk menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya. Data penduduk, misalnya, tidak berdiri sendiri. Ia berhubungan dengan pendidikan, kesehatan, kemiskinan, pekerjaan, bantuan sosial, mobilitas penduduk, hingga kondisi ekonomi keluarga. Demikian pula data UMKM tidak cukup hanya menunjukkan siapa yang memiliki usaha. Jika dibaca lebih jauh, data tersebut dapat memberikan gambaran tentang jenis usaha yang berkembang, wilayah konsentrasi ekonomi masyarakat, kebutuhan pelatihan, akses pasar, hingga peluang pengembangan produk unggulan desa.
Karena itu, semakin banyak data yang dimiliki desa justru semakin besar kebutuhan terhadap kemampuan membaca data. Tanpa kemampuan tersebut, digitalisasi hanya memindahkan pekerjaan administratif dari kertas ke layar. Pemerintah desa menjadi lebih modern dalam cara menyimpan informasi, tetapi belum tentu lebih cerdas dalam menggunakan informasi tersebut. Pada titik ini, ukuran keberhasilan transformasi digital seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak aplikasi yang telah digunakan, melainkan sejauh mana data yang dihasilkan mampu membantu pemerintah memahami persoalan dan menentukan tindakan.
๐๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐๐ฎ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ฟ ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ธ ๐ฅ๐๐ฎ๐ป๐ด
Masalah berikutnya adalah fragmentasi informasi. Data desa selama ini sering tersebar dalam berbagai sistem, halaman website, dokumen administrasi, aplikasi pelayanan, basis data kependudukan, laporan kegiatan, hingga berbagai platform yang digunakan untuk kebutuhan tertentu. Masing-masing mungkin bekerja dengan baik dalam ruangnya sendiri, tetapi persoalan muncul ketika informasi tersebut perlu dilihat sebagai satu kesatuan.
Dalam kondisi seperti itu, seseorang yang ingin memahami perkembangan sebuah desa harus berpindah dari satu sumber ke sumber lainnya. Informasi tentang profil desa berada di satu tempat, berita kegiatan berada di tempat lain, data ekonomi masyarakat berada di sistem yang berbeda, sementara informasi mengenai penggunaan Sistem Informasi Desa dan keberadaan website desa harus dicari melalui saluran yang lain lagi. Padahal, bagi pengambil keputusan, masyarakat, pendamping, maupun pemangku kepentingan lainnya, yang dibutuhkan bukan sekadar kumpulan informasi yang terpisah, melainkan gambaran yang utuh tentang desa.
Di sinilah gagasan mengenai ekosistem data menjadi penting. Desa membutuhkan cara untuk melihat berbagai informasi tersebut secara lebih terhubung sehingga perkembangan wilayah tidak hanya dipahami berdasarkan satu indikator atau satu aplikasi, tetapi melalui hubungan antardata yang membentuk gambaran yang lebih lengkap.
๐ฃ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ ๐ฆ๐๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐จ๐ฝ๐ฎ๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฐ๐ฎ ๐๐ธ๐ผ๐๐ถ๐๐๐ฒ๐บ ๐๐ฒ๐๐ฎ
Dalam konteks tersebut, kehadiran Pantau SID dapat dilihat sebagai salah satu ikhtiar untuk membangun cara pandang yang lebih luas terhadap informasi desa. Platform ini tidak semata-mata ditempatkan sebagai tempat menampilkan data, tetapi sebagai ruang untuk memantau berbagai dimensi perkembangan digital dan informasi desa, mulai dari keberadaan dan kondisi website desa, penggunaan OpenSID, berita desa, hingga informasi yang berkaitan dengan penduduk, UMKM, dan berbagai aktivitas lainnya.
Yang menarik bukan sekadar banyaknya menu atau fitur yang tersedia, melainkan gagasan di baliknya: informasi desa perlu ditempatkan dalam satu ekosistem agar lebih mudah diamati, dibandingkan, dan dipahami. Ketika berbagai sumber informasi dapat dipantau secara lebih terstruktur, perubahan yang sebelumnya tersembunyi di balik data yang tersebar dapat mulai terlihat. Dari sinilah data mempunyai peluang untuk bergerak dari sekadar catatan administratif menjadi bahan analisis.
Tentu saja, sebuah platform tidak akan otomatis menyelesaikan persoalan tata kelola data. Kualitas informasi tetap bergantung pada sumber data, kedisiplinan pembaruan, kapasitas operator, standar pengelolaan, dan kemampuan manusia yang menggunakannya. Teknologi hanyalah instrumen. Nilai sebenarnya tetap berada pada bagaimana manusia membaca, memverifikasi, menghubungkan, dan menggunakan informasi tersebut.
๐ช๐ฒ๐ฏ๐๐ถ๐๐ฒ ๐๐ฒ๐๐ฎ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฆ๐ฒ๐ธ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ ๐ฃ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐๐บ๐๐บ๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐ด๐ถ๐๐ฎ๐น
Cara kita memandang website desa juga perlu berubah. Website desa tidak seharusnya hanya menjadi tempat mempublikasikan berita kegiatan, pengumuman, atau dokumentasi seremonial pemerintahan. Jika dikelola dengan baik, website dapat menjadi salah satu bagian dari infrastruktur informasi desa yang merekam perjalanan sebuah wilayah secara terbuka.
Dari waktu ke waktu, berita dan informasi yang dipublikasikan dapat membentuk jejak digital tentang apa yang dikerjakan pemerintah desa, program apa yang berjalan, persoalan apa yang muncul, kegiatan ekonomi apa yang berkembang, dan bagaimana pemerintah berkomunikasi dengan masyarakat. Dalam perspektif ini, kualitas website tidak hanya ditentukan oleh tampilan yang menarik, tetapi juga oleh kualitas informasi, konsistensi pembaruan, keterbukaan, dan kemampuannya menjadi sumber pengetahuan publik.
Karena itu, memantau website desa sebenarnya bukan pekerjaan teknis semata. Di balik status aktif atau tidak aktif, pembaruan atau tidak diperbarui, terdapat pertanyaan yang lebih besar mengenai kualitas komunikasi publik dan kematangan tata kelola digital pemerintah desa.
๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฑ๐บ๐ถ๐ป๐ถ๐๐๐ฟ๐ฎ๐๐ถ๐ณ ๐ ๐ฒ๐ป๐๐ท๐ ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐๐ฒ๐ฝ๐๐๐๐๐ฎ๐ป
Perubahan paling penting terjadi ketika data mulai digunakan untuk menjawab persoalan nyata. Pemerintah desa dapat melihat perubahan jumlah penduduk, perkembangan kelompok usaha, kondisi ekonomi masyarakat, pola kegiatan, kebutuhan pelayanan, atau perkembangan penggunaan teknologi informasi dari waktu ke waktu. Dengan membandingkan data secara berkala, pemerintah tidak hanya mengetahui kondisi hari ini, tetapi juga dapat membaca kecenderungan yang sedang berlangsung.
Kemampuan seperti inilah yang seharusnya menjadi salah satu tujuan utama digitalisasi desa. Data tidak lagi diperlakukan sebagai kewajiban pelaporan, melainkan sebagai instrumen untuk memperbaiki kualitas keputusan. Ketika data menunjukkan suatu persoalan berkembang di wilayah tertentu, pemerintah memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan prioritas. Ketika sebuah program menghasilkan perubahan, data dapat membantu melihat apakah perubahan tersebut benar-benar terjadi atau hanya terlihat baik dalam laporan.
Dengan demikian, tata kelola pemerintahan desa perlahan dapat bergerak dari pola โbekerja lalu melaporkanโ menuju pola โmengamati, menganalisis, memutuskan, melaksanakan, dan mengevaluasiโ. Perubahan pola pikir inilah yang jauh lebih penting daripada sekadar menambah jumlah aplikasi.
๐ง๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฆ๐ฒ๐๐๐ป๐ด๐ด๐๐ต๐ป๐๐ฎ ๐๐ฑ๐ฎ ๐ฝ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐๐ถ๐ฎ
Pada akhirnya, persoalan data desa bukan hanya persoalan teknologi. Desa dapat memiliki perangkat yang baik, koneksi internet yang memadai, sistem informasi yang modern, dan dashboard yang lengkap, tetapi semuanya tidak akan banyak berarti jika tidak dibarengi dengan kapasitas manusia untuk mengelolanya.
Operator desa perlu memahami bukan hanya bagaimana memasukkan data, tetapi juga bagaimana memastikan data tersebut benar. Pemerintah desa perlu memahami bukan hanya bagaimana melihat angka, tetapi juga bagaimana membaca maknanya. Pendamping dan pemangku kepentingan perlu mampu membantu desa mengubah informasi menjadi analisis yang dapat digunakan. Sementara masyarakat juga perlu diberi ruang untuk memperoleh informasi yang mudah dipahami sehingga keterbukaan data tidak berhenti sebagai jargon pemerintahan digital.
Karena itu, investasi terbesar dalam transformasi digital desa seharusnya bukan hanya pada perangkat keras dan perangkat lunak, tetapi juga pada literasi data. Desa membutuhkan lebih banyak orang yang mampu bertanya terhadap data, memeriksa kualitasnya, melihat hubungan antarvariabel, membaca perubahan, dan menarik kesimpulan secara bertanggung jawab.
๐๐ฒ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ฎ๐ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ ๐๐ฝ๐น๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ถ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ธ
Kita perlu mulai meninggalkan ukuran lama tentang desa digital. Desa yang paling maju bukanlah desa yang memiliki aplikasi paling banyak atau dashboard paling ramai. Desa yang lebih matang secara digital adalah desa yang mampu menggunakan teknologi untuk memahami dirinya sendiri.
Desa yang mengetahui siapa penduduknya, bagaimana kondisi sosial ekonominya, apa potensi ekonominya, apa persoalan yang sedang berkembang, bagaimana pelayanan berjalan, bagaimana informasi publik disampaikan, dan bagaimana kebijakan menghasilkan perubahan adalah desa yang mulai membangun kecerdasan institusional. Dalam konteks tersebut, teknologi tidak lagi berdiri sebagai simbol modernisasi, melainkan menjadi bagian dari proses berpikir pemerintahan.
Karena itu, pertanyaan tentang masa depan digitalisasi desa seharusnya tidak lagi berhenti pada โaplikasi apa yang harus dibuat?โ Pertanyaan yang lebih penting adalah โinformasi apa yang kita miliki, apa yang dapat kita pelajari darinya, dan keputusan apa yang dapat kita perbaiki berdasarkan pengetahuan tersebut?โ
๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ถ๐๐ฎ ๐๐๐๐๐ต๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐๐ฎ, ๐ง๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐บ๐ฝ๐๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฐ๐ฎ
Pada akhirnya, desa akan terus menghasilkan data. Setiap pelayanan menghasilkan catatan, setiap kegiatan menghasilkan dokumentasi, setiap transaksi ekonomi meninggalkan jejak, setiap perubahan penduduk menghasilkan informasi, dan setiap aktivitas pemerintahan membentuk rekam digital yang semakin panjang. Persoalannya bukan lagi apakah desa memiliki data, tetapi apakah ada kemampuan kelembagaan untuk mengubah data tersebut menjadi pengetahuan yang berguna.
Di sinilah masa depan transformasi digital desa sebenarnya dipertaruhkan. Kita tidak membutuhkan digitalisasi hanya agar desa terlihat modern. Kita membutuhkan digitalisasi agar desa mampu melihat dirinya sendiri dengan lebih jelas. Ketika data mulai dibaca, desa memperoleh pengetahuan. Ketika pengetahuan digunakan dalam pengambilan keputusan, desa memperoleh arah. Dan ketika keputusan terus dievaluasi berdasarkan data, tata kelola pemerintahan mulai bergerak menuju sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar digital: pemerintahan yang belajar dari kenyataan.
Mungkin karena itu, pertanyaan paling penting tentang masa depan data desa bukanlah berapa banyak data yang berhasil dikumpulkan, melainkan siapa yang membacanya, bagaimana ia memahaminya, dan untuk apa pengetahuan tersebut digunakan. Sebab desa yang kaya data belum tentu menjadi desa yang cerdas; desa menjadi cerdas ketika mampu mengubah data menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi keputusan yang lebih baik bagi masyarakat.
#DesaSmart #PantauSID #DigitalisasiDesa #DataDesa #TransformasiDigital #SmartVillage #TataKelolaDesa
Oleh Redaksi Desa Digital |
NTB โ Awal tahun 2026 menjadi momentum penting bagi banyak desa di Nusa Tenggara Barat. Beragam kegiatan pembangunan, pemberdayaan masyarakat, hingga tantangan alam tercermin jelas dalam beritaโberita desa yang terpublikasi di portal berita SID. Suaraโsuara dari pelosok memberi gambaran nyata tentang kehidupan bersama, kolaborasi, serta upaya desa untuk terus maju dan meningkatkan kesejahteraan warganya.
๐ Jejak Mahasiswa di Desa BandokDi Desa Bandok, kegiatan penarikan peserta KKN IAIH NW Lombok Timur Tahun 2026 menjadi penanda perjalanan panjang pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Kegiatan KKN tidak hanya memberi dampak sosial, tetapi juga mempererat hubungan kampusโdesa dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat.
๐ฃ๏ธ Infrastruktur Desa Semakin DiperhatikanWarga Tanak Kaken menyambut baik kepastian perbaikan jalan penghubung Desa Tanak Kaken dan Desa Mengkuru yang akan dilaksanakan bulan ini. Jalan ini bukan sekadar akses fisik, tetapi juga tulang punggung mobilitas warga dan pendorong ekonomi lokal.
๐ Masyarakat Serukan Transparansi AnggaranPartisipasi warga semakin nyata di Desa Kwang Rundun. Masyarakat melakukan hearing di kantor desa menuntut keterbukaan penggunaan anggaran desa 2020โ2025. Ini menunjukkan bahwa warga tidak pasif, tetapi aktif menuntut transparansi dan akuntabilitas pemerintahan desa.
โ Cuaca Ekstrem dan Ketahanan LingkunganBeberapa desa juga menghadapi tantangan cuaca ekstrem. Di Banjarsari dan Kalimantong, hujan deras dan luapan air menguji kesiapsiagaan warga dan aparat desa dalam mengelola bencana serta dampaknya terhadap sektor pertanian.
๐ฃ๏ธ Penguatan Pengawasan & Partisipasi Warga dalam APBDesBPD Desa Rarang menggelar publik hearing realisasi APBDes 2025, mengundang keterlibatan masyarakat dalam evaluasi perkembangan desa โ sebuah praktik demokrasi lokal yang semakin kuat.
๐ Musyawarah Perencanaan Desa: Suara BersamaMusyawarah perencanaan pembangunan desa juga menandai kesiapan desa menghadapi tantangan dan peluang 2026. Seperti yang terjadi di Desa Soro dan Desa Lanta, pertemuan partisipatif ini menyatukan aspirasi warga, BPD, dan pemerintah desa untuk merumuskan kegiatan pembangunan yang tepat sasaran.
๐ฝ๏ธ Prioritas Kesehatan & Gizi BalitaKegiatan sosialisasi PMT lokal untuk percepatan penurunan stunting di Desa Lape menunjukkan perhatian desa terhadap isu kesehatan masyarakat yang kritis, terutama gizi balita dan ibu hamil.
โจ Refleksi & HarapanBeritaโberita dari desa bukan sekadar headline, tetapi cerminan dinamika kehidupan sosial, ekonomi, dan pemerintahan di akar rumput. Desaโdesa di NTB menunjukkan semangat kolaborasi, partisipasi masyarakat, dan ketangguhan menghadapi perubahan. Lewat platform berita desa seperti Pantau SID, suara warga terdengar lebih luas dan transparan, mendukung proses pembangunan yang inklusif dan akuntabel.
Publikasi Kegiatan
Data Pantau SID NTB pada 12 Desember 2025, pukul 23.43 WITA, kembali membuka kenyataan yang selama ini kerap tertutup oleh narasi besar transformasi digital: dari 858 website desa di NTB, hanya 380 yang online, sementara 478 situs tidak dapat diakses. Ini bukan sekadar angkaโini adalah potret faktual tentang bagaimana kebijakan digital tingkat provinsi belum sepenuhnya menemukan bentuk yang stabil di lapangan.
Pemerintah NTB menempatkan digitalisasi desa sebagai bagian dari agenda strategisโSPBE, integrasi layanan, dashboard data, hingga program pemberdayaan desa berbasis teknologi. Namun realitas menunjukkan bahwa lebih dari separuh desa masih kehilangan eksistensi digitalnya. Ketika website desa mati, maka mati pula akses warga pada informasi publik, layanan administratif, dan transparansi anggaran yang menjadi inti dari pemerintahan modern.
Meski begitu, data juga memperlihatkan tiga titik terang yang patut diapresiasi: Lombok Timur, Sumbawa Barat, dan Kota Bima. Lombok Timur menjadi penyumbang situs aktif terbesar di NTBโindikasi bahwa kapasitas teknis, pendampingan, dan komitmen perangkat desa berjalan relatif lebih baik. Sumbawa Barat hampir sempurna dalam memastikan situs desa selalu hidup, menunjukkan manajemen digital yang disiplin dan terstruktur. Sementara Kota Bima memperlihatkan konsistensi yang jarang terlihat di kota/kabupaten lain: hampir seluruh desanya online. Ketiga wilayah ini membuktikan bahwa ketika tata kelola jelas, dukungan teknis hadir, dan monitoring dilakukan, digitalisasi bukan sekadar rencanaโtetapi kenyataan yang berfungsi.
Namun titik-titik terang itu justru menegaskan satu hal: kesenjangan antarwilayah di NTB terlalu tajam untuk diabaikan. Daerah-daerah lainโBima, Dompu, Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Kota Mataramโmasih terjebak dalam pola lama: domain tidak diperpanjang, hosting mandiri yang tak terkelola, operator desa minim pelatihan, serta ketiadaan sistem monitoring provinsi yang seharusnya memandu kualitas layanan. Jika transformasi digital dianggap pilar pembangunan NTB, maka membiarkan ratusan situs desa mati berarti membiarkan ratusan desa kehilangan pintu aksesnya ke masa depan.
Editorial ini tidak bermaksud menyalahkan desa. Justru sebaliknya: desa tidak boleh dibiarkan sendirian mengelola infrastruktur digital yang seharusnya ditangani secara terpusat dan profesional. NTB membutuhkan pendekatan baruโlebih sistemik, lebih bertanggung jawab, lebih melindungi desa dari beban teknis yang bukan menjadi kompetensi mereka. Hosting terpusat dengan SLA jelas, integrasi API dari SID ke platform provinsi, monitoring uptime yang wajib, serta pendampingan teknis berkelanjutan adalah langkah praktis yang segera dapat memperbaiki situasi.
NTB memiliki visi besar, dan sebagian daerah sudah membuktikan visinya mungkin dicapai. Tetapi keberhasilan Lombok Timur, Sumbawa Barat, dan Kota Bima tidak boleh menjadi pengecualianโharus menjadi standar. Digitalisasi desa adalah fondasi pelayanan publik modern: tanpa fondasi yang kuat, semua platform, dashboard, hingga agenda integrasi data hanya menjadi bangunan megah yang kosong di dalam.
Ini waktunya NTB menyatukan ambisi kebijakan dengan ketelitian implementasi. Transformasi digital bukan tentang seberapa banyak program diumumkan, tetapi seberapa banyak yang benar-benar berfungsi. Jika desa-desa adalah ujung tombak pembangunan, maka memastikan situs desa tetap hidup bukan pilihanโmelainkan kewajiban moral dan administratif dari pemerintah provinsi.
Sumber berita Pantau SID
Desa-desa di Sumbawa kini memasuki babak baru pembangunan: Desa Digital atau Smart Village. Konsep ini bukan sekadar jargon, melainkan strategi nyata untuk menjawab tantangan era modern. Di sini, teknologi tidak hanya mempermudah administrasi, tetapi juga menguatkan partisipasi warga, meningkatkan transparansi, dan memastikan setiap aspirasi terdengar.
Pemerintah desa mulai memanfaatkan platform digital untuk menyelenggarakan Musrenbang, termasuk Musrenbang Anak, yang memungkinkan generasi muda menyuarakan kebutuhan mereka dalam pembangunan. Warga dari berbagai lapisan, mulai dari perangkat desa, BPD, RW/RT, linmas, hingga pendamping desa, kini terlibat aktif dalam setiap keputusan. Proses pembangunan yang dulu top-down, kini menjadi kolaboratif, berbasis data, dan responsif terhadap kebutuhan nyata masyarakat.
Momentum nasional seperti HUT TNI ke-80 dan Hari Kesaktian Pancasila 2025 menjadi pengingat bahwa teknologi dan modernisasi desa tidak boleh membuat kita lupa sejarah dan nilai persatuan. Desa Digital bukan hanya soal internet cepat atau sistem administrasi online, tetapi tentang bagaimana informasi, data, dan keputusan pembangunan dikelola secara efisien, transparan, dan berkeadilan.
Hasilnya terlihat nyata: pembangunan menjadi lebih tepat sasaran, partisipasi warga meningkat, dan generasi muda belajar bahwa suara mereka memiliki kekuatan untuk mengubah desa. Desa-desa di Sumbawa membuktikan bahwa inovasi digital bisa berjalan selaras dengan budaya, kearifan lokal, dan semangat gotong royong.
Editorial ini menegaskan satu hal: Desa Digital adalah kunci masa depan Sumbawa. Dengan memanfaatkan teknologi secara cerdas, memperkuat partisipasi warga, dan menegakkan transparansi, desa-desa tidak hanya membangun fisik, tetapi juga kapasitas sosial, ekonomi, dan budaya yang adaptif. Sumbawa sedang menulis ulang sejarah desa: desa masa depan bukan sekadar impian, tapi kenyataan yang sedang dibangun hari ini.
Baca di Kawasan Online dan di Desa Smart
Pantau SID | Pengentasan kemiskinan ekstrem telah menjadi salah satu fokus besar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Targetnya jelas: pada tahun 2027, tidak boleh ada lagi masyarakat NTB yang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem. Target ini bukan sekadar angka, tetapi menyangkut martabat manusiaรขโฌโkarena kemiskinan ekstrem adalah bentuk paling nyata dari ketidakberdayaan ekonomi.
Secara statistik, kemajuan memang terlihat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2024, angka kemiskinan ekstrem NTB berada di level 2,04 persen, menurun dari 2,64 persen pada 2023. Penurunan ini menempatkan NTB pada posisi kedelapan secara nasional. Namun, penurunan angka tidak berarti tantangan telah usai. Sekretaris Bappeda NTB, Dr. Mahjulan, dengan jujur mengakui bahwa target nol persen pada akhir 2024 sebagaimana arahan Presiden Jokowi, belum bisa tercapai. Realistisnya, paling cepat 2025รขโฌโ2026, dan paling lambat 2027.
Ketimpangan AntarwilayahDi balik angka rata-rata yang membaik, terdapat ketimpangan yang perlu mendapat perhatian serius. Lombok Tengah mencatat angka kemiskinan ekstrem terendah di NTB, hanya 0,72 persen. Sebaliknya, Lombok Utara masih berkutat di angka 5,79 persen, tertinggi di provinsi ini. Fakta ini menunjukkan bahwa kemiskinan ekstrem di NTB tidak seragam. Setiap daerah memiliki karakteristik dan tantangan sendiri yang menuntut solusi berbeda.
Pantauan Sistem Informasi Desa (SID) tahun 2025 memperlihatkan peta kemiskinan ekstrem yang lebih detail. Terdapat 106 desa/kelurahan miskin ekstrem dengan jumlah 44.013 individu miskin dan 16.876 kepala keluarga miskin. Sebagian besar beban ada di Pulau Lombok: Lombok Timur dengan 31 desa, Lombok Tengah 22 desa, Lombok Barat 18 desa, Lombok Utara 12 desa, dan Kota Mataram 7 kelurahan. Di Pulau Sumbawa, kondisi sedikit lebih ringan, dengan Kabupaten Sumbawa 12 desa, Kota Bima 1 desa, dan Kabupaten Bima 2 desa.
Data ini memberi pesan tegas: angka kemiskinan ekstrem tidak hanya hidup di tabel statistik BPS, melainkan berwujud nyata di desa-desa, di rumah tangga, bahkan di wajah-wajah warga yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup.
Pantau SID dan Pentingnya Data AkuratSalah satu kritik yang terus mengemuka adalah soal validasi data. Bagaimana mungkin program bisa tepat sasaran jika data penerima manfaat masih bias? Di sinilah hadirnya Pantau SID menjadi instrumen strategis.
Dengan mendorong seluruh desa di NTB menggunakan platform OpenSID sebagai Sistem Informasi Desa, terutama desa-desa miskin ekstrem, pemerintah bisa memantau kondisi secara online terlebih dahulu sebelum melakukan kunjungan atau monitoring lapangan. Melalui Pantau SID, data dapat ditarik secara real time, sehingga meminimalisasi risiko salah sasaran.
Bukan hanya itu, aplikasi ini juga memiliki fitur berita TV online dan slide berita, yang memungkinkan informasi desa ditampilkan secara transparan dan mudah diakses publik. Dengan demikian, pengentasan kemiskinan ekstrem tidak hanya menjadi urusan pemerintah, melainkan juga bagian dari partisipasi masyarakat yang lebih luas.
Lebih dari Sekadar AngkaKemiskinan ekstrem didefinisikan oleh Bank Dunia sebagai kondisi ketika seseorang hidup dengan pengeluaran kurang dari 1,90 dolar AS per hariรขโฌโsekitar Rp10.739 per orang per hari atau Rp322.170 per orang per bulan. Jika satu keluarga terdiri dari empat orang, maka keluarga itu masuk kategori miskin ekstrem bila pengeluarannya tidak lebih dari Rp1.288.680 per bulan. Angka ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan.
Karena itu, pengentasan kemiskinan ekstrem tidak boleh dipandang sekadar รขโฌลproyek pengurangan angka.รขโฌย Ia adalah upaya memulihkan martabat warga, memberi ruang agar masyarakat miskin bisa keluar dari jerat keterbatasan, dan menciptakan generasi baru yang lebih berdaya.
Tantangan dan HarapanTarget NTB bebas kemiskinan ekstrem pada 2027 tentu bukan perkara mudah. Jalan menuju ke sana panjang dan terjal. Pemerintah harus memastikan konsistensi kebijakan, keberanian memperbaiki data, serta keseriusan dalam menyalurkan program yang benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan.
Lebih dari itu, dibutuhkan sinergi lintas sektor: pemerintah daerah, desa, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat sipil. Teknologi seperti Pantau SID dapat menjadi katalis, namun tetap saja kunci utamanya ada pada komitmen politik dan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat miskin.
Karena pada akhirnya, di balik setiap persentase, di balik daftar 106 desa miskin ekstrem, dan di balik laporan yang terpampang di layar Pantau SID, terdapat manusia yang nyata. Mereka menunggu bukti, bukan janji. Mereka menanti perubahan, bukan sekadar data. Dan tugas kita bersama adalah memastikan, bahwa pada 2027 kelak, NTB benar-benar bebas dari kemiskinan ekstrem.
Di tengah derasnya arus informasi digital, desa-desa kini memiliki kekuatan baru untuk menyebarkan berita dan mendokumentasikan kegiatan mereka secara akurat dan transparan. Sistem Informasi Desa (SID) dan website desa bukan lagi sekadar arsip digitalรขโฌโmereka menjadi panggung publik yang memperlihatkan kerja nyata desa.
Kegiatan sehari-hari, dari penyerahan seragam adat, rapat rutin TP-PKK, pengaktifan Linmas, hingga penyaluran BLT-DD, kini dapat diakses langsung oleh warga maupun pihak eksternal. Tidak perlu menunggu kabar dari mulut ke mulut atau menebak informasi, semua terekam, terdokumentasi, dan bisa dipantau kapan saja.
Salah satu contoh inspiratif datang dari Desa Semamung, yang mulai aktif menggunakan SID untuk menyebarkan berita dan dokumentasi kegiatan. Dari foto kegiatan, laporan program, hingga narasi budaya lokal, semua dipublikasikan dengan rapi, membuat warga lebih terlibat, terinformasi, dan terdorong ikut berperan.
Tak hanya itu, website desa menjadi alat strategis bagi pegiat konten desa dan pengambil kebijakan. Dengan berita yang profesional, transparan, dan lengkap, desa membangun citra digital yang kuat, sekaligus memperlihatkan bahwa digitalisasi informasi desa adalah kunci pemberdayaan warga dan pelestarian budaya lokal.
Lebih jauh lagi, pemerintah daerah seharusnya memberi dorongan nyata bagi desa-desa yang aktif dan inovatif. Penghargaan, lomba website desa, atau lomba inovasi digital dapat menjadi motivasi tambahan agar desa lain ikut berpartisipasi. Dengan begitu, muncul efek domino positif, mendorong inovasi, transparansi, dan partisipasi warga secara luas.
Kini, desa tidak hanya bergerak di lapangan; mereka bergerak di dunia digital, menyebarkan informasi yang penting, membangun partisipasi, dan memupuk rasa memiliki masyarakat terhadap kegiatan desa. Setiap postingan berita adalah bukti nyata bahwa inovasi teknologi dan budaya lokal bisa berjalan beriringanรขโฌโmemberdayakan warga, menegakkan transparansi, dan menginspirasi desa lain untuk mengikuti jejaknya.
SID dan website desa telah membuktikan: desa yang cerdas digital adalah desa yang berdaya, transparan, dan berbudaya. kawasan.online
รฐลธลย Salah satu kekuatan desa di era digital adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), pemanfaatan OpenSID sebagai sistem informasi desa kian nyata. Data terkini dari Pantau SID mencatat sebanyak 816 desa di NTB telah menggunakannya, dengan 472 desa aktif online dan 344 desa masih offline. Angka ini sekaligus menjadi potret kesiapan desa-desa NTB dalam menghadapi tantangan digitalisasi pelayanan publik.
Distribusi per kabupaten memperlihatkan variasi yang menarik. Lombok Timur menjadi penyumbang terbesar dengan 252 desa, diikuti Sumbawa dengan 165 desa, serta Bima dengan 143 desa. Sementara itu, Lombok Utara tercatat baru memiliki 13 desa pengguna OpenSID, namun semuanya aktif onlineรขโฌโsebuah capaian yang patut diapresiasi.
รฐลธโโ Versi OpenSID: Pentingnya PembaruanDi balik data jumlah pengguna, salah satu indikator penting adalah versi OpenSID yang digunakan. Saat ini, versi terbaru adalah 2509.0.0 yang dirilis pada September 2025. Distribusi versi ini memudahkan desa untuk mengetahui apakah sistem yang mereka gunakan sudah terkini atau masih perlu pembaruan.
Pembaruan versi tidak sekadar soal teknis, melainkan juga menyangkut keamanan data, stabilitas sistem, serta akses ke fitur-fitur baru. Desa-desa yang sudah mengadopsi versi terbaru patut diapresiasi sebagai pelopor adaptasi digital, sekaligus memberi contoh bagi desa lain agar tidak tertinggal.
รฐลธลฝยจ Tema OpenSID: Identitas Digital DesaSelain versi, tema OpenSID juga menjadi perhatian. Tema bukan hanya soal tampilan, melainkan cerminan identitas digital desa. Pantau SID memetakan penggunaan tema, baik yang bersifat bawaan seperti Netra dan Esensi, maupun tema profesional (Pro) seperti DeNava, Pusako, Silir, Batuah, DeNatra, hingga Lestari.
Dari sini kita bisa membaca tren dan preferensi desa: apakah mereka memilih tampilan sederhana dan ringan, atau lebih kaya fitur dan desain modern. Konsistensi dalam penggunaan tema juga penting untuk memastikan tampilan situs desa mudah diakses masyarakat dan selaras dengan kebutuhan informasi publik.
รฐลธลลธ Desa Pelopor DigitalUntuk memotivasi percepatan adopsi, Pantau SID juga menampilkan 10 desa yang sudah menggunakan versi terbaru OpenSID. Daftar ini menjadi rujukan bahwa pembaruan itu mungkin dan dapat dilakukan dengan baik. Lebih jauh, sistem juga menampilkan 10 desa dengan performa digital tertinggi, dinilai dari kombinasi indikator: versi SID yang digunakan, status online/offline, dan pemanfaatan Tanda Tangan Elektronik (TTE).
Inisiatif ini memberikan apresiasi kepada desa-desa yang paling adaptif sekaligus memberi inspirasi bagi desa lain. Dengan begitu, desa yang masih tertinggal dapat belajar dan mengejar ketertinggalan mereka.
รฐลธลกโฌ Menuju NTB Desa DigitalEditorial ini menggarisbawahi bahwa pemanfaatan Versi dan Tema OpenSID bukan hanya urusan teknis, melainkan bagian dari transformasi digital desa di NTB. Dengan dukungan masyarakat, pemerintah desa, hingga pemangku kebijakan daerah, NTB tengah bergerak menuju ekosistem digital yang lebih matang dan inklusif.
Karena pada akhirnya, desa yang terkoneksi, terbarui, dan tampil profesional adalah kunci bagi NTB yang lebih maju dan transparan.
รขลยรฏยธย Suara Redaksi Pantau SID
Kami mengajak para pegiat desa untuk terus menjaga semangat belajar dan berbagi praktik baik, sebab kemajuan teknologi tidak akan berarti tanpa partisipasi warga. Kepada pemerintah kabupaten/kota dan pemangku kebijakan, apresiasi kami sampaikan atas dukungan nyata yang telah diberikan, dan harapan kami sederhana: teruslah menjadi jembatan agar desa-desa di NTB dapat melangkah bersama dalam arus transformasi digital.
Sebab setiap desa yang berdaya digital, adalah satu langkah lebih dekat menuju NTB yang cerdas, inklusif, dan berdaya saing. รฐลธลยฑ
Desa-desa di Nusa Tenggara Barat terus menghadirkan wajah kehidupan yang dinamis, penuh energi, dan kaya inspirasi. Melalui Pantau SID, kabar terbaru dari berbagai pelosok desa kini hadir secara otomatis, terekam dari website desa pengguna OpenSID, dan dapat diakses siapa saja secara real-time. Kehadiran sistem ini bukan hanya soal teknologi, melainkan bukti keterbukaan informasi desa yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat, pegiat desa, hingga pengambil kebijakan di NTB.
Beberapa hari terakhir, denyut kehidupan desa diwarnai dengan berbagai kegiatan bermakna. Dari Kalimantong, riuh sorak warga menggema saat RT 07 berhasil mengangkat trofi Liga Bola Voli Merdeka, menegaskan bahwa olahraga masih menjadi ruang perekat sosial. Di balai desa, suasana berbeda hadir melalui Musyawarah Desa di Talonang Baru, Mantar, hingga Kalimantong sendiriรขโฌโforum partisipatif yang membahas arah pembangunan desa melalui perubahan RKPDes dan APBDes. Semua ini adalah potret demokrasi desa yang hidup.
Sementara itu, Kerongkong menjadi saksi syiar keagamaan dengan penutupan MTQ tingkat desa yang berlangsung penuh khidmat, sekaligus memastikan layanan dasar kesehatan berjalan lewat Posyandu Permata Hati. Di Tatar, semangat hidup sehat digelorakan lewat GERMAS 2025, sedangkan Lepak menghadirkan inovasi dengan sosialisasi digital marketing untuk memperkuat ekonomi warga di era teknologi. Dari sisi tata kelola, Aikmel Timur melangkah maju dengan penjaringan perangkat desa baru, sebagai komitmen memperkuat pelayanan publik.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa desa-desa di NTB tidak berjalan di tempat. Mereka berlari dengan cara mereka sendiriรขโฌโmelalui olahraga, musyawarah, syiar agama, kesehatan, hingga inovasi digital. Semua bergerak dalam irama gotong royong, menghadirkan energi positif yang tak hanya dirasakan warga, tetapi juga memberi inspirasi bagi seluruh NTB.
Melalui Pantau SID, kita bisa melihat bagaimana desa-desa di NTB membuktikan diri sebagai pusat perubahan. Masyarakat yang aktif, pemerintah desa yang terbuka, serta dukungan kebijakan yang berpihak pada desa, adalah modal besar menuju NTB yang lebih maju. Di sinilah apresiasi layak diberikan, kepada warga yang terus berpartisipasi, kepada pegiat desa yang tiada lelah mendampingi, dan kepada para penentu kebijakan yang memberi ruang tumbuh bagi desa.
Karena pada akhirnya, kemajuan desa adalah cermin kemajuan NTB. Dan setiap kabar yang terekam di Pantau SID adalah cerita tentang harapan, kerja bersama, dan masa depan yang lebih baik.
Pantau SID. - Perjalanan digitalisasi desa melalui implementasi Sistem Informasi Desa (SID) semakin menunjukkan dinamika yang menarik sekaligus menantang. Data terkini dari pemantauan Pantau SID mengungkapkan potret yang penuh warna: di satu sisi ada desa-desa yang berhasil memanfaatkan teknologi dengan optimal, namun di sisi lain masih banyak desa yang tertatih menjaga keberlanjutan layanan digitalnya.
Dari tren keterhubungan situs desa, terlihat bahwa jumlah desa yang online sempat melonjak tajam hingga menembus angka di atas 800 desa aktif pada awal Agustus 2025. Angka ini menggambarkan optimisme sekaligus bukti bahwa desa mampu beradaptasi dengan cepat. Namun lonjakan tersebut tidak bertahan lama: sejak pertengahan Agustus, kurva menurun drastis hingga menyisakan hanya sekitar seratusan desa yang konsisten terpantau aktif. Fenomena ini mengindikasikan bahwa banyak situs desa masih bersifat รขโฌลmusimanรขโฌยรขโฌโaktif ketika ada pendampingan atau intervensi, lalu kembali pasif ketika ditinggal berjalan sendiri.
Hal serupa tercermin dari statistik kunjungan harian situs desa. Pada periode akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2025, rata-rata kunjungan sempat melonjak tinggi bahkan menyentuh lebih dari 120 kunjungan per hari. Sayangnya, tren tersebut terus menurun hingga stabil di angka yang relatif rendah, yaitu di bawah 40 kunjungan harian. Penurunan drastis ini patut menjadi perhatian serius, karena menandakan bahwa keberadaan situs desa belum sepenuhnya dirasakan relevan oleh masyarakat atau tidak dikelola dengan rutin sehingga menurunkan minat kunjungan.
Distribusi versi SID juga memperlihatkan tantangan tersendiri. Sebagian besar desa masih menggunakan versi lama, dengan jumlah terbanyak bertahan pada versi jauh di belakang pembaruan terbaru. Padahal, versi yang usang berimplikasi langsung pada keamanan, stabilitas, dan keterbatasan fitur. Kondisi ini sejalan dengan data status aktif-pasif: lebih dari setengah desa tercatat dalam kategori รขโฌลpasifรขโฌย. Fakta ini menunjukkan bahwa transformasi digital desa tidak hanya bergantung pada ketersediaan sistem, tetapi juga pada kapasitas sumber daya manusia desa, dukungan kebijakan, serta mekanisme pendampingan berkelanjutan.
Tambahan lagi, penggunaan tanda tangan elektronik (TTE) yang menjadi salah satu indikator penting modernisasi administrasi desa masih jauh dari optimal. Mayoritas desa tercatat รขโฌลbelumรขโฌย memanfaatkan TTE, sebagian lain memilih รขโฌลtidakรขโฌย, dan hanya segelintir yang sudah mengimplementasikan dengan konsisten. Kondisi ini menunjukkan adanya gap besar antara potensi pemanfaatan teknologi digital dengan realitas di lapangan.
Dari keseluruhan gambaran, terlihat jelas bahwa desa-desa digital saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada desa-desa pionir yang menunjukkan performa sangat tinggiรขโฌโmampu menjaga situs tetap aktif, rutin diperbarui, bahkan berhasil menarik kunjungan masyarakat. Desa-desa ini layak dijadikan contoh baik dan inspirasi. Namun di sisi lain, jumlah desa pasif yang terus meningkat menunjukkan bahwa tanpa kebijakan strategis, kapasitas teknis, serta dukungan kelembagaan yang memadai, mayoritas desa akan terus berada dalam lingkaran รขโฌลhidup-matiรขโฌย digitalisasi.
Pesan penting dari data ini adalah bahwa digitalisasi desa tidak cukup hanya dengan menyediakan aplikasi OpenSID. Perlu ada kebijakan daerah yang konsisten, dukungan anggaran khusus untuk pengelolaan data desa, peningkatan kapasitas operator, serta mekanisme evaluasi dan penghargaan yang jelas. Tanpa itu semua, transformasi digital desa berisiko mandek dan gagal menjawab tantangan pembangunan berbasis data.
Momentum ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama, terutama bagi para pengambil kebijakan daerah dan pegiat OpenSID. Data sudah menunjukkan dengan terang bahwa ada potensi besar, tetapi juga ada ancaman stagnasi. Pertanyaannya sekarang: apakah kita akan membiarkan digitalisasi desa berjalan sporadis dan musiman, atau berani mengambil langkah strategis agar desa benar-benar berdaulat dengan data?.
Pantau SID NTB | Agustus 2025 รขโฌโ Digitalisasi desa di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menunjukkan progres yang menggembirakan. Sistem Informasi Desa (SID) yang diterapkan melalui platform OpenSID kini telah menjadi elemen penting dalam tata kelola pemerintahan desa. Untuk melihat sejauh mana pemanfaatan sistem ini berkembang, Pantau SID NTB melakukan analisis dan benchmarking terhadap berbagai indikator utama, mulai dari keaktifan desa, pembaruan versi, statistik kunjungan web, hingga performa teknis masing-masing desa.
Tren desa online dan offline memperlihatkan bahwa semakin banyak desa yang aktif mengelola sistemnya secara mandiri. Desa-desa yang dulunya tidak terpantau kini mulai menampakkan geliatnya, menunjukkan komitmen untuk hadir secara digital di ruang publik. Namun demikian, masih ada desa yang masuk kategori pasif, baik karena keterbatasan sumber daya manusia, dukungan teknis, maupun infrastruktur internet yang belum memadai. Ketimpangan inilah yang menjadi tantangan bersama dalam mendorong pemerataan digitalisasi desa.
Di sisi lain, statistik kunjungan web harian dari website-website desa memperlihatkan bahwa sebagian besar desa yang rutin mengupdate konten mereka รขโฌโ seperti berita, dokumentasi kegiatan, dan data publik รขโฌโ mendapatkan trafik kunjungan yang stabil bahkan tinggi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat mulai menjadikan website desa sebagai sumber informasi utama yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.
Salah satu indikator penting dalam pemanfaatan SID adalah versi aplikasi yang digunakan. Analisis menunjukkan bahwa sejumlah desa telah menggunakan versi SID terbaru, bahkan premium, seperti versi 2508.0.0. Desa-desa seperti Pematung, Setanggor Selatan, dan Keroya di Lombok Timur; Kalimantong dan Tepas di Sumbawa Barat; serta Sebewe dan Stowe Brang di Kabupaten Sumbawa termasuk dalam jajaran pengguna versi paling mutakhir. Ini menunjukkan keseriusan dalam pembaruan sistem untuk memastikan keamanan dan efektivitas pelayanan digital.
Tak kalah penting adalah status aktif desa dalam sistem dan penggunaan fitur Tanda Tangan Elektronik (TTE). Meskipun implementasi TTE belum menyeluruh, desa-desa yang sudah memanfaatkannya telah merasakan kemudahan dalam mempercepat proses administrasi tanpa harus tergantung pada kehadiran fisik kepala desa. Ini menjadi bukti bahwa digitalisasi tidak hanya soal tampilan website, tetapi juga soal efisiensi kerja.
Lebih lanjut, dalam hal performa digital desa, tercatat ada sepuluh desa yang menonjol berdasarkan skor pemanfaatan sistem. Kalimantong, Tepas, Rarang Selatan, Maria, dan Kolo menjadi lima desa dengan nilai tertinggi. Mereka menunjukkan konsistensi dalam pembaruan data, kecepatan akses situs, dan optimalisasi fitur layanan publik. Sementara itu, desa-desa lain seperti Baru Tahan, Sebasang, Lito, Batu Putih, dan Banjar juga mencatatkan skor tinggi yang membanggakan.
Keseluruhan data ini memberikan gambaran bahwa digitalisasi desa di NTB bukan lagi sekadar wacana. Ia telah berjalan, meski belum merata. Beberapa desa berada di garis depan dengan sistem yang rapi, cepat, dan aktif; sementara yang lain masih perlu dukungan lebih kuat dalam hal pelatihan, pendampingan, dan infrastruktur.
Melalui editorial ini, Pantau SID NTB ingin menegaskan bahwa data bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk ditindaklanjuti. Dari data kita bisa belajar, memperbaiki, dan mendorong perubahan. Digitalisasi bukan sekadar proyek teknologi, melainkan komitmen membangun desa yang terbuka, efisien, dan berdaya.
Karena pada akhirnya, desa yang kuat adalah desa yang tidak hanya menyimpan data รขโฌโ tetapi menggunakannya untuk kemajuan bersama.